Lompat ke isi

Pengajaran Imam Khomeini

Dari Wiki Imam Khomeini

Pengajaran Imam Khomeini, pengajaran berbagai ilmu Islam oleh Imam Khomeini.

Imam Khomeini memiliki kursi pengajaran di berbagai bidang dan tingkatan di Hauzah Ilmiah Qum dan Najaf. Pengajaran Imam Khomeini mencakup karakteristik seperti: penyampaian yang dapat dipahami, memperkuat pemikiran kritis, mencetak mujtahid, ketelitian tinggi, pengajaran persuasif, dan ketepatan waktu.

Imam Khomeini mengajar sastra, fikih, dan ushul dalam empat tingkatan: mukadimah (dasar), tingkat menengah, tingkat tinggi, dan dars kharij. Selain pelajaran-pelajaran ini, beliau juga mengajar filsafat, irfan, dan akhlak.

Imam Khomeini mengajar ilmu-ilmu rasional ('aqli) di Madrasah Dar as-Syifa Qum dan mengajar Syarh Manzhumah serta Asfar setidaknya selama dua puluh tahun. Bersamaan dengan mengajar filsafat, beliau juga mengajar buku Manazil al-Sa'irin dalam irfan praktis ('amali) dan Syarh Qaisari 'ala Fushush al-Hikam dalam irfan teoretis (nazhari).

Imam Khomeini mengajar dars kharij ushul pada tahun 1324–1343 HS dengan berporos pada Kifayah al-Ushul, dan dars kharij fikih pada tahun 1324–1342 HS. Setelah pengasingan Imam Khomeini ke Najaf, pelajaran fikih beliau di sana dimulai pada tahun 1344 HS, dan selama empat belas tahun pengasingannya, beliau mengajar makasib muharramah, jual beli (bai'), dan khiyar selama dua belas tahun, serta mengajar pembahasan cacat (khalal) dalam salat pada dua tahun terakhir.

Selain mengajar ilmu-ilmu rasional dan transmsional (naqli) untuk para santri (tulab), Imam Khomeini juga mengajar akhlak dan memiliki pengajaran di beberapa ilmu lainnya; termasuk Syarh Syamsiyyah dalam logika (mantik) dan Syawariq al-Ilham dalam ilmu kalam.

Mukadimah

Pengajaran dalam Islam memiliki sejarah panjang dan kedudukan khusus. Meskipun Nabi Akram (saw) mengajar di Masjid, namun sejak abad kedua Imam Baqir (as) dan Imam Shadiq (as) memulai pengajaran secara umum[1] dan kemudian berlanjut di hauzah ilmu-ilmu agama yang dianggap sebagai lembaga pendidikan, penelitian, dan dakwah, dalam bidang sastra Arab, ilmu alam, logika (mantik), teologi, akidah, fikih, ushul, tafsir, hadis, irfan, dan lain sebagainya.
Di hauzah ilmu-ilmu Islam di masa lalu, seleksi para santri ilmu-ilmu agama dilakukan dengan pengawasan dan manajemen tradisional.[2] Pemilihan pelajaran, guru, dan durasi studi menjadi tanggung jawab santri itu sendiri dan meskipun sekolah-sekolah berpusat pada guru,[3] para guru biasanya tidak menikmati keuntungan materi dan tidak menerima upah mengajar. Dalam metode pendidikan ini, para santri setelah beberapa waktu belajar, mengajarkan apa yang mereka pelajari kepada mereka yang berada di tingkat lebih rendah. Imam Khomeini juga selama puluhan tahun memiliki kursi pengajaran di berbagai bidang seperti filsafat, irfan, fikih, ushul, dan akhlak di berbagai tingkatan di Hauzah Ilmiah Qum dan Najaf, serta mendidik banyak murid, khususnya di bidang fikih dan ushul.

Karakteristik Pengajaran

Imam Khomeini mengajar dengan metode lazim yang sama di sekolah-sekolah ilmu agama di mana seorang guru duduk di mimbar dan kursi pengajaran di sebuah sekolah atau masjid, dan tanpa menggunakan alat bantu pendidikan, hanya menjelaskan dan menguraikan teks pelajaran.[4]

Penyampaian yang Dapat Dipahami

Beliau mengajar dengan penyampaian yang baik dan dapat dipahami. Di awal pelajaran, beliau menguraikan topik pembahasan dengan baik, merujuk pada perkataan para ulama, serta mengutip dan mengkritik dalil-dalil dari mereka yang berpendapat,[5] sedemikian rupa sehingga murid dididik secara bebas dan mandiri.[6]

Memperkuat Pemikiran Kritis

Beliau memupuk semangat meneliti pada murid-muridnya, sedemikian rupa sehingga pemikiran beliau mendominasi penelusurannya. Selain itu, beliau juga merekomendasikan kepada para murid untuk mengkritik dan mengajukan keberatan terhadap pembahasan pelajaran, serta mendorong dan menyemangati mereka;[7] oleh karena itu, beliau mendorong mereka untuk mengajukan masalah-masalah yang tepat dan menghindari kebisuan yang tidak pada tempatnya di kelas, serta beliau menjawab masalah yang mereka ajukan. Beliau meminta murid-muridnya agar untuk menjadi seorang ahli (pemikir), mereka harus menghadapi pandangan guru secara kritis dan tidak menerima perkataannya secara taklid (ta'abbudi)[8] dan beliau berkeyakinan bahwa jika di suatu kelas tidak ada sanggahan, maka majelis tersebut menyerupai majelis marsiyah (ratapan dukacita);[9] berdasarkan hal ini, beliau tidak hanya meminta para penulis taqrir (catatan pelajaran) agar tidak hanya cukup dengan mencatat pelajaran guru; melainkan mendorong mereka untuk menulis kritik.[10] Terkadang beliau juga memberikan dorongan khusus kepada beberapa murid karena mengajukan masalah dan pertanyaan.[11]

Mencetak Mujtahid

Pelajaran Imam Khomeini bersifat mencetak mujtahid, dan cara beliau masuk dan keluar dalam pembahasan fikih, ushul, serta filsafat, membuka jalan istinbat (pengambilan hukum) bagi murid-muridnya dan menyebabkan tumbuhnya semangat penelitian serta pemekaran dan pembuahan bakat-bakat terpendam mereka beserta keseriusan yang tinggi.[12] Mendidik sejumlah besar murid yang layak, utama (fadhil), peneliti, ahli/pemikir, dan sadar akan zaman adalah salah satu pelayanan terpenting beliau kepada hauzah-hauzah ilmiah dan umat Islam.[13]

Ketelitian Tinggi

Imam Khomeini senantiasa menelaah untuk pengajarannya dan memasuki pembahasan dengan kesiapan penuh dalam seluruh dimensi pelajaran.[14] Upaya beliau adalah untuk memahami materi dengan benar di awal lalu kemudian mengajarkannya.[15] Pengajaran beliau memiliki ketelitian yang tinggi, sedemikian rupa sehingga terkadang menyebabkan kelas diperpanjang melebihi batas waktu biasanya.[16]

Pengajaran Persuasif

Metode beliau dalam mengajar bersifat persuasif (iqna'i)[17] dan jauh dari kerumitan serta istilah-istilah yang tidak wajar dan rumit yang ada pada sebagian pelajaran hauzah.[18] Menyajikan cabang-cabang dan dimensi-dimensi pembahasan, mengkaji dalil-dalil, serta membahas berbagai perkataan dianggap sebagai karakteristik pengajaran beliau.[19] Metode pengajaran Imam Khomeini pada pelajaran-pelajaran yang berpusat pada teks (matan), adalah bahwa pertama-tama beliau membaca beberapa baris dari ungkapan tersebut lalu menjelaskan topik yang dimaksud dengan sangat baik, sedemikian rupa sehingga beliau menghindari istilah-istilah yang membingungkan dan akibatnya sebagian besar orang memahami materi tersebut; kemudian beliau mencocokkan penjelasannya dengan ungkapan-ungkapan tersebut.[20]
Beliau dalam dars kharij fikih dan ushul yang diselenggarakan secara ijtihadi, pertama-tama menerangkan pokok pembahasan pada topik terkait dengan memperhatikan dalil-dalil; kemudian beralih pada pandangan orang lain dan jika bertentangan dengan pandangan mereka, beliau menolak teori-teori mereka dengan menjaga kesopanan secara penuh.[21] Ketelitian dalam menjaga ruang lingkup pembahasan, disebutkan sebagai salah satu karakteristik pelajaran beliau; sedemikian rupa sehingga pandangan urfi dapat dipisahkan dengan baik dari pandangan filosofis dalam pembahasan fikih dan ushul.[22]
Imam Khomeini menelaah pembahasan pelajaran setiap hari pada malam sebelumnya dan mencatatnya[23] serta menyampaikan pelajarannya yang memiliki konten mendalam tersebut dengan bahasa yang indah dan ungkapan-ungkapan yang sederhana, mengalir, serta teratur.[24] Setelah mengajar, beliau kembali ke rumah dan sekitar satu jam, tidak menerima siapa pun agar dapat menulis pembahasan yang telah dipaparkan.[25] Meskipun beliau menulis pembahasan tersebut dalam bahasa Arab, beliau mengajarkan semuanya dalam bahasa Persia.

Ketepatan Waktu

Beliau dalam mengajar sangat tepat waktu, sedemikian rupa sehingga dikatakan bahwa sebagian murid mengatur jam kerja mereka sesuai dengan jam pelajarannya.[26] Beliau berusaha membiasakan murid-muridnya pada kedisiplinan dalam pelajaran dan kehidupan; antara lain, suatu hari karena merasa sedih atas keterlambatan beberapa murid, alih-alih mengajar, beliau berbicara tentang perlunya kedisiplinan dalam belajar dan mengingatkan bahwa penulis kitab Jawahir bahkan pada hari wafat putranya, sebelum berkumpulnya para santri untuk prosesi pemakaman, menulis setengah halaman dari kitab Jawahir.[27] Beliau tidak pernah bersedia meliburkan pelajaran; hingga dikatakan bahwa selama periode empat setengah tahun pelajaran ushul, selain hari-hari libur yang biasa, beliau hanya meliburkan pelajarannya selama dua hari.[28]

Jumlah Pelajaran

Imam Khomeini menganggap proses belajar sebagai tugas para santri (tulab) itu sendiri yang harus gigih dalam memahami materi pelajaran. Beliau menganggap tidak pantas untuk mengikuti lebih dari dua pelajaran dalam sehari dan meyakini bahwa seorang santri harus mempelajari hanya satu pelajaran utama dengan penelitian di hadapan guru, dan memilih pelajaran lain sebagai pelajaran sampingan dan jangan mengorbankan pelajaran utamanya demi pelajaran sampingan, serta tidak boleh menghabiskan seluruh usia (waktunya) hanya untuk belajar di hadapan guru.[29] Beliau sendiri selama tahun-tahun mengajar dars kharij fikih dan ushul di Hauzah Ilmiah Qum, setiap hari memberikan satu pelajaran fikih dan satu pelajaran ushul, dan pada tahun-tahun mengajar di Najaf, sehari hanya memberikan satu dars kharij fikih; tentu saja, pada masa ketika beliau mengajar pelajaran irfan, filsafat, fikih, dan ushul di tingkat menengah (sath), beliau mengajar banyak pelajaran setiap harinya. Tidak dilaporkan adanya sesuatu yang berjudul pelajaran di hari-hari libur dari Imam Khomeini.

Teks-Teks Pelajaran

Imam Khomeini adalah salah seorang alumnus hauzah ilmiah dan sekolah-sekolah agama tradisional yang telah mengajar sastra, fikih, dan ushul pada empat tingkatan: mukadimah, tingkat menengah, tingkat tinggi, dan dars kharij. Selain pelajaran-pelajaran ini, beliau juga telah mengajar filsafat, irfan, dan akhlak. Pelajaran-pelajaran ini dilaksanakan di berbagai tempat Templat:Lihat juga.
Berdasarkan dokumen yang ada, Imam Khomeini pada dua tingkatan pertama, telah mengajarkan Jami' al-Muqaddamat, kitab Suyuthi, dan sebagian dari Syarh al-Lum'ah kepada istrinya.[30] Mengenai pelajaran tingkat menengah (sath), tidak ada dokumen mengenai pengajaran Imam Khomeini, tetapi menurut kaidahnya, seseorang yang mengajar di tingkat tinggi, sebelumnya juga telah mengajar di tahap-tahap yang lebih rendah, dan karena alasan ini, pastinya Imam Khomeini juga telah mengajar pelajaran dasar (mukadimah) di hauzah. Pengajaran atas kitab-kitab Rasa'il, Makasib, dan Kifayah al-Ushul telah dilaporkan dari beliau.[31] Sebagian besar laporan pengajaran beliau berkaitan dengan tingkat tinggi, dars kharij fikih dan ushul, filsafat, irfan, dan akhlak.

Filsafat

Imam Khomeini setelah mempelajari filsafat Shadra dan Hikmah Muta'aliyah pada Sayyid Abu al-Hasan Rafi'i Qazwini,[32] mulai mengajarkannya.

Syarh Manzhumah dan Asfar

Meskipun tanggal pasti dimulainya pengajaran filsafat beliau tidak jelas, secara pasti beliau telah mengajar ilmu-ilmu rasional sebelum tahun 1348 H/ 1308 HS di Madrasah Dar as-Syifa Qum[33] dan pengajaran filsafat beliau, sebagaimana yang beliau sendiri sebutkan, juga berlanjut setelah wafatnya Abdul Karim Ha'iri Yazdi dan hingga sebelum kedatangan Sayyid Husain Burujerdi ke Hauzah Ilmiah Qum pada tahun 1323 HS, salah satu kesibukan ilmiah utama beliau adalah mengajar ilmu-ilmu rasional;[34] pengajaran ini terus berlanjut hingga tahun 1328 HS.[35] Oleh karena itu, beliau setidaknya selama dua puluh tahun telah mengajar Syarh Manzhumah dan Asfar[36] dan pelajaran-pelajaran resmi beliau dalam ilmu-ilmu rasional berakhir sekitar tahun 1328 HS, dan setelah itu tidak ditemukan adanya laporan tentang pengajaran filsafat beliau secara umum;[37] tetapi Sayyid Mustafa Khomeini mempelajari beberapa bagian dari Asfar pada tahun 1374 H/ 1334 HS pada ayahnya di Tehran.[38] Taqrirat Falsafah yang ditulis oleh Sayyid Abdul Ghani Musawi Ardabili juga terkait dengan tahun-tahun 1323-1328 HS.[39]

Alasan-Alasan Penutupan

Disebutkan berbagai alasan untuk berhentinya (ditutupnya) pelajaran ilmu-ilmu rasional Imam Khomeini.[40] Beliau sendiri mengatakan bahwa setelah kedatangan Sayyid Husain Burujerdi ke Qum pada tahun 1323 HS, atas permintaan orang-orang seperti Murtadha Muthahhari, beliau sibuk mengajar dars kharij dan tertinggal dari ilmu-ilmu rasional;[41] namun tentang Imam Khomeini yang pada tahun 1324-1327 HS dengan kedatangan Mirza Mahdi Ashtiyani ke Qum, beliau meliburkan pelajaran filsafatnya demi menghormati beliau[42] atau bahwa pelajaran itu diliburkan setelah hijrahnya Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i (1281-1360 HS) ke Qum,[43] ini tidaklah benar; karena berdasarkan dokumen yang ada, pengajaran umum filsafat beliau terus berlanjut hingga tahun 1328 HS[44] dan kedatangan Ashtiyani serta Thabathaba'i ke Qum berkaitan dengan tahun-tahun sebelum tanggal ini; sebagaimana pula klaim bahwa salah satu alasan penutupan pelajaran filsafat beliau adalah penolakan dari sebagian kalangan hauzah; sedemikian rupa sehingga mereka bahkan menkafirkan beliau karena pelajaran filsafatnya,[45] juga tidaklah benar; karena Imam Khomeini menganggap peristiwa-peristiwa tersebut berkaitan dengan masa kanak-kanak putranya, Sayyid Mustafa Khomeini,[46] yang lahir pada tahun 1309 HS dan ini terjadi bertahun-tahun sebelum berakhirnya masa mengajar filsafat beliau.

Kepekaan Mengenai Para Peserta

Beliau sendiri sejak awal mengajar ilmu-ilmu rasional memiliki kepekaan khusus terhadap para peserta di pelajaran filsafat, dan terkadang meminta mereka yang bukan ahli dalam ilmu-ilmu eksak (ilmu-ilmu teliti) agar tidak berpartisipasi dalam pelajarannya. Terkadang pula karena adanya penolakan dari luar, beliau meliburkan pelajaran filsafat untuk sementara waktu dan demi kemaslahatan. Beliau bahkan memprotes terhadap pengumuman dan perluasan pelajaran-pelajaran filsafat di hauzah.[47] Untuk mengikuti pelajaran filsafat beliau yang diselenggarakan secara privat, kemampuan para murid harus dikonfirmasi oleh salah satu guru; sebagaimana setelah beberapa waktu berpartisipasi di kelas, beliau meminta para murid untuk mencatatnya dan menyerahkannya untuk beliau periksa, dan hanya jika dikonfirmasi mereka dapat melanjutkan keikutsertaan mereka di kelas tersebut.[48]

Irfan

Imam Khomeini bersamaan dengan mengajar filsafat pada tahun 1310-1320 HS, mengajar buku Manazil al-Sa'irin dalam bidang irfan praktis ('amali) bagi individu-individu tertentu[49] dan bagi sebagian orang dalam irfan teoretis (nazhari), beliau mengajar Syarh Qaisari 'ala Fushush al-Hikam.[50] Dari dua ijazah irfani beliau untuk dua orang murid di kelas irfan pada tahun 1314 dan 1317 HS,[51] dapat dipahami bahwa pada tahun-tahun tersebut beliau telah mengajarkan buku-buku irfan teoretis kepada sekelompok orang. Tentu saja, suasana umum Hauzah Ilmiah Qum saat itu sedemikian rupa sehingga tidak ada kemungkinan untuk mempublikasikan pelajaran irfan secara terbuka, dan Imam Khomeini juga menganggap pengajaran irfan secara terbuka sama halnya dengan bunuh diri[52] dan dalam kelanjutan mengajar, beliau meninggalkan pelajaran ini. Tuduhan yang menganggap pelajaran beliau sebagai "pelajaran sufi"[53] adalah bukti dari pemahaman beliau tersebut. Sayidah Fatimah Thabataba'i—menantu Imam Khomeini—juga pada tahun-tahun tinggalnya beliau di Jamaran, karena kesibukan kuliah di bidang Filsafat Barat, mengambil manfaat secara ilmiah dari Imam Khomeini dalam bidang irfan secara privat dan tidak resmi.[54]

Fikih dan Ushul

Mengajar tingkat tinggi ushul dan fikih, dalam kurun waktu sebelum kedatangan Sayyid Husain Burujerdi ke Qum, merupakan salah satu pekerjaan ilmiah utama Imam Khomeini.[55] Dikatakan bahwa pengajaran beliau di tingkat tinggi ushul dan fikih adalah sekitar tahun 1312 HS;[56] namun waktu dimulainya pengajaran beliau pada tingkat dars kharij, adalah setelah kedatangan Burujerdi ke Qum pada tahun 1323 HS di mana atas permintaan beberapa cendekiawan (fudhala) termasuk Murtadha Muthahhari dan Husain Ali Muntazhari, beliau mulai mengajar dars kharij.[57] Setelah pembebasan dari penjara, di rumah Qum, kawasan Yakhchal Qadhi, selama beberapa waktu beliau mengajar masalah-masalah kontemporer (masa'il mustahdatsah) fikih.[58] Imam Khomeini dari sekitar tahun 1312 hingga 1343 HS secara terus-menerus di Qum sibuk mengajar ushul dan fikih pada tingkat tinggi (sath 'ali) dan dars kharij.[59] Selama tahun-tahun ini, beliau mengajar dars kharij ushul dan beberapa bab fikih lebih dari dua periode.[60]

Periode Pengajaran

Periode pertama ushul dari tahun 1324 hingga 1330 HS, mencakup pembahasan amarat (indikasi) dan ushul amaliyyah. Periode kedua dari 1330-1337 HS mencakup seluruh pembahasan ushul. Periode ketiga dari 1337-1342 HS, beliau mengajar dari awal ushul hingga pembahasan hadis raf' dari pembahasan ushul amaliyyah,[61] di mana periode ini tidak selesai dengan dimulainya perjuangan serta penahanan dan pengasingan beliau.[62] Dekade 1330-an HS merupakan puncak pengajaran Imam Khomeini pada tingkat dars kharij fikih dan ushul. Beliau mengajar dars kharij ushul pada tahun 1324-1343 HS yang dimulai dengan berporos pada Kifayah al-Ushul dan setiap periode pelajaran berlangsung sekitar enam hingga tujuh tahun.[63]
Imam Khomeini juga mengajar dars kharij fikih pada tahun 1324-1342 HS. Pelajaran dars kharij fikih pertama beliau adalah pembahasan khiyar dari kitab Makasib Muharramah karya Syekh Murtadha al-Ansari, yang tidak selesai.[64] Pelajaran dars kharij kedua diselenggarakan di rumah beliau dengan dihadiri empat-lima orang, di mana beliau mengajar dars kharij zakat dan berlangsung sekitar dua bulan.[65] Beliau mengajarkan pembahasan kesucian (taharah) dari tahun 1330 hingga 1337 HS. Setelah itu beliau mengajarkan pembahasan makasib muharramah dan jual beli (bai').[66] Jumlah murid di kelas beliau pada periode sejarah ini dilaporkan sangat banyak.[67]
Setelah pengasingan Imam Khomeini ke Najaf, pelajaran fikih beliau di sana dimulai sejak 1 Rabiul Awal 1385 H/ 1344 HS dan selama empat belas tahun pengasingan, beliau mengajar makasib muharramah dan pembahasan jual beli (bai') serta khiyar selama dua belas tahun.[68] Setelah berakhirnya pembahasan jual beli, pada dua tahun terakhir masa pengasingan di Irak yaitu tahun 1355-1357 HS, beliau mengajarkan pembahasan-pembahasan terkait cacat (khalal) dalam salat Templat:Lihat juga.[69]

Landasan Ushul

Landasan ushul Imam Khomeini diambil dari gurunya, Abdul Karim Ha'iri Yazdi, dan dalam pelajaran ushul, beliau sebagian besar memperhatikan pandangan-pandangan Muhammad Husain Isfahani, Mirza Muhammad Husain Na'ini, dan Dhiya'uddin 'Iraqi.[70] Dalam pelajaran-pelajaran ini, karena kefasihan penyampaiannya, banyak orang yang hadir.[71] Imam Khomeini dalam mengajar dars kharij fikih membahas dan mengkaji permasalahan-masalah dengan mengemukakan perkataan dan pandangan-pandangan para ulama serta memaparkan ayat dan riwayat. Beliau juga memaparkan ijmak atau pandangan-pandangan masyhur (populer) dalam masalah-masalah tersebut.[72] Metode pelajaran beliau dinilai sedemikian rupa sehingga di dalamnya para murid mencapai tingkat ijtihad, dan dikatakan bahwa dari kelas-kelas ini banyak murid yang mencapai derajat ijtihad[73] Templat:Lihat juga.

Penulisan Pelajaran

Hampir semua pelajaran Imam Khomeini dalam pembahasan fikih dan ushul, ditulis oleh pena beliau sendiri.[74] Buku-buku yang ditulis olehnya dan merupakan hasil pengajaran fikih serta ushulnya, yang sebagian besar ditulis bersamaan dengan pengajaran: Kitab al-Thaharah, 4 jilid; Al-Makasib al-Muharramah, 2 jilid; Kitab al-Bai', 5 jilid; Al-Khalal fi al-Salat, 1 jilid; Wilayatul Faqih, 1 jilid; Manahij al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul, 2 jilid; Anwar al-Hidayah fi al-Ta'liqah 'ala al-Kifayah, 2 jilid; Al-Istishhab, 1 jilid; Al-Ta'adul wa al-Tarjih dan Al-Ijtihad wa al-Taqlid, 1 jilid; Qaidah Ladhirar, 1 jilid; Bada'i' al-Durar fi Qaidah Ladhirar dan Risalah Thalab wa Iradah, 1 jilid; sebuah risalah tentang takiah dan beberapa risalah singkat fikih-ushul lainnya Templat:Lihat juga. Taqrirat (catatan-catatan) pelajaran singkat juga tersisa dari Imam Khomeini pada beberapa topik fikih yang menunjukkan pengajaran beliau pada pembahasan-pembahasan ini, seperti furu' (cabang-cabang) secara umum, salat musafir, dan qadha salat-salat mayit.

Akhlak

Imam Khomeini di samping mengajar ilmu rasional dan transmsional untuk para santri (tulab), juga mengajar akhlak. Beliau senantiasa memberikan perhatian khusus pada akhlak dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) serta memaparkan topik-topik akhlak baik secara independen maupun di sela-sela pelajaran lain. Pelajaran-pelajaran ini berlangsung selama bertahun-tahun di Hauzah Ilmiah Qum. Sebagian memperkirakan waktu dimulainya pelajaran ini adalah setelah wafatnya Ha'iri Yazdi dan berlangsung selama delapan tahun.[75] Pelajaran-pelajaran ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim dan hadis-hadis Maksumin (as)[76] dan sebagian juga menyebutkan sumbernya adalah buku Syarh Manazil al-Sa'irin, karya Kamaluddin Abdurrazzaq Kasyani.[77] Pelajaran akhlak beliau pada awalnya diselenggarakan secara terbatas; namun secara bertahap meluas dan menjadi terbuka untuk umum, sedemikian rupa sehingga orang-orang non-santri pun ikut serta di dalamnya.[78]
Pelajaran akhlak Imam Khomeini pada hakikatnya adalah pelajaran makrifat serta sair dan suluk dan bukan akhlak dalam arti ilmiah yang kaku, dan hal ini sangat membangkitkan antusiasme beberapa murid sehingga mereka terpengaruh olehnya hingga berhari-hari[79] dan selama beberapa hari, hauzah memiliki suasana yang berbeda.[80] Sambutan terhadap pelajaran akhlak beliau sedemikian rupa sehingga memicu kepekaan badan keamanan pemerintah saat itu, sehingga mereka berupaya menutupnya; karena dalam pelajaran-pelajaran ini, tidak hanya disampaikan nasihat dan petuah akhlak, tetapi juga merupakan pelajaran politik.[81]
Pelajaran-pelajaran akhlak Imam Khomeini pada mulanya diadakan di Madrasah Faidhiyyah satu jam sebelum matahari terbenam (magrib). Waktu pelajaran ini menurut sebagian orang adalah Hari Jumat di Madrasah Faidhiyyah[82] dan sebagian lain menyebutkan waktunya setiap hari Kamis dan Jumat;[83] Tentu saja, dengan tekanan badan keamanan, tempatnya dipindahkan dari Madrasah Faidhiyyah ke Madrasah Haji Mulla Shadiq yang dikenal sebagai Madrasah Haji dan pada akhirnya ditutup oleh pihak kepolisian (Shahrbani) Qum.[84] Kitab Syarh Chihil Hadith dapat dianggap sebagai produk (hasil) dari sebagian pelajaran akhlak beliau di Hauzah Ilmiah Qum.[85] Oleh karena Imam Khomeini terkadang di awal pelajaran-pelajaran beliau lainnya memberikan nasihat-nasihat akhlak, poin-poin yang terkumpul dalam Kitab Jihad ba Nafs (Jihad Melawan Hawa Nafsu) atau Jihad Akbar juga merupakan kumpulan dari pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat akhlak beliau di Hauzah Ilmiah Najaf.[86]

Lain-Lain

Laporan-laporan yang tersebar menunjukkan bahwa Imam Khomeini juga mengajar beberapa ilmu lainnya; termasuk pengajaran Syarh Syamsiyyah dalam logika (mantik) dan juga bagian logika dari Syarh Manzhumah Sabzawari[87] serta pengajaran Syawariq al-Ilham dalam ilmu kalam yang diselenggarakan secara privat untuk beberapa orang terbatas termasuk Muhammad Shadiq Khalkhali dan Hasan Nuri;[88] selain itu, lima sesi tafsir lisan dari Surah Al-Fatihah juga dilakukan dalam bentuk pelajaran yang dihadiri oleh beberapa orang yang mana setelah Kemenangan Revolusi Islam, direkam di Qum dan disiarkan secara umum melalui stasiun televisi (Simay) Republik Islam Iran. Templat:Lihat juga

Catatan Kaki

  1. Ridha'i Isfahani, Syiwih-ha-yi Tahshil wa Tadris dar Hauzih-ha-yi 'Ilmiyyah, hlm. 29 dan 32.
  2. Lihat: Dhawabithi, Pizhuhisyi dar Nizham-i Thalabigi, hlm. 32, 87, 200, dan 201.
  3. Syari'ati, Rawisy-i Syinakht-i Islam, hlm. 459-461.
  4. Lihat: Farahani, Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini, hlm. 33, 46, 84, 87, dan 176.
  5. Amini, Khatirat Ayatullah Ibrahim, Hajj-Amini Najafabadi, hlm. 89.
  6. Jawadi Amuli, Bunyan-i Marshush, Imam Khomeini Quddisa Sirruh dar Bayan wa Banan-i Ayatullah Jawadi Amuli, hlm. 27.
  7. Subhani, Pa bih Pa-yi Aftab, 4/204 dan 207; Ma'rifat, Ayinih-daran-i Haqiqat, Musahabih-ha-yi Majallih-yi Hauzah, 1/625.
  8. Khaz'ali, Wawancara, 4/38.
  9. Subhani, Pa bih Pa-yi Aftab, 4/207-208.
  10. Lihat: Raja'i, Bardasyt-hayi az Sirih-yi Imam Khomeini, 5/84.
  11. Lihat: Raja'i, Bardasyt-hayi az Sirih-yi Imam Khomeini, 5/85 dan 86.
  12. Muhtasyamipur, Khatirat Siyasi, 1/126; Ma'rifat, Ayinih-daran-i Haqiqat, Musahabih-ha-yi Majallih-yi Hauzah, 1/32.
  13. Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/59; Hasyimi Rafsanjani, Imam bih Riwayat-i Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, hlm. 255.
  14. Lihat: Raja'i, Bardasyt-hayi az Sirih-yi Imam Khomeini, 5/71-72.
  15. 'Amid Zanjani, Pa bih Pa-yi Aftab, 5/12.
  16. Fadhil Lankarani, Majalah Hauzah, hlm. 129.
  17. 'Amid Zanjani, Majalah Hauzah, hlm. 112.
  18. Fadhil Lankarani, Pa bih Pa-yi Aftab, 5/121; Subhani, Pa bih Pa-yi Aftab, 4/208.
  19. Girami, Khatirat Ayatullah Muhammad Ali Girami, hlm. 175-176; Amini, Khatirat Ayatullah Ibrahim, Hajj-Amini Najafabadi, hlm. 89.
  20. Muntazhari, Khatirat Ayatullah Muntazhari, 1/91-92.
  21. Intisyari, Khatirat, hlm. 35; Amini, Khatirat Ayatullah Ibrahim, Hajj-Amini Najafabadi, hlm. 90.
  22. Nashiri, Khatirat, hlm. 242.
  23. Banifadhl, Khatirat Ayatullah Murtadha Banifadhl, hlm. 112.
  24. Subhani, Pa bih Pa-yi Aftab, 4/208.
  25. Banifadhl, Khatirat Ayatullah Murtadha Banifadhl, hlm. 112.
  26. Ghayuri, Wawancara, 5/92.
  27. Rudbari, Khatirat, 1/70-71.
  28. Rudbari, Khatirat, 1/70-71.
  29. Lihat: Raja'i, Bardasyt-hayi az Sirih-yi Imam Khomeini, 5/83-84.
  30. Thaqafi, Wawancara, 1/51.
  31. Muntazhari, Khatirat, hlm. 217 dan 218; Ahmadi, Khatirat, hlm. 12, 26; Amini, Khatirat Ayatullah Ibrahim, Hajj-Amini Najafabadi, hlm. 27 dan 32; Subhani, Khatirat, hlm. 127.
  32. Dhiya'i, Nahdzat-i Falsafi-yi Imam Khomeini, hlm. 11.
  33. Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/55.
  34. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427.
  35. Lihat: Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Taqrirat Falsafah Imam Khomeini, 1/13.
  36. Ashtiyani, Khatirat, hlm. 2; Ashtiyani, Wawancara, 3/195; Ashtiyani, "Dar Ratsa-yi Imam-i 'Arifan", hlm. 4.
  37. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Taqrirat Falsafah Imam Khomeini, 1/13.
  38. Khomeini, Ta'liqat 'ala al-Hikmah al-Muta'aliyah, hlm. 597.
  39. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Taqrirat Falsafah Imam Khomeini, 1/17.
  40. Lihat: Farahani, Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini, hlm. 51, 52, 214, dan 215.
  41. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427.
  42. Subhani, Wawancara, 4/209; Malakuti, Khatirat Ayatullah Muslim Malakuti, hlm. 34-35.
  43. Dawani, Imam Khomeini dar Ayinih-yi Khatirih-ha, hlm. 46; Thabathaba'i, Barrasi-ha-yi Islami, 2/282.
  44. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Taqrirat Falsafah Imam Khomeini, 1/13.
  45. Badala, Haftad Sal Khatirih az Ayatullah Sayyid Husain Badala, hlm. 230.
  46. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 21/279.
  47. Dawani, Imam Khomeini dar Ayinih-yi Khatirih-ha, hlm. 92.
  48. Malakuti, Khatirat Ayatullah Muslim Malakuti, hlm. 32.
  49. Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/55-56.
  50. Ashtiyani, Wawancara, 3/195; Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427.
  51. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 1/4 dan 14.
  52. Ashtiyani, Khatirat, hlm. 2-3.
  53. Musawi Ardabili, Khatirat, hlm. 221.
  54. Lihat: Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 18/442-457; 19/90, 91; 20/164-168 dan 21/237, 238.
  55. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427.
  56. Syubairi Zanjani, Jur'ih-i az Darya, 1/590.
  57. Lihat: Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427.
  58. Murtadhawi Langrudi, Wawancara, 5/199.
  59. Imam Khomeini, Shahifat al-Imam, 19/427-428.
  60. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Jawahir al-Ushul, 1/6.
  61. Subhani, Mukadimah Buku Lamahat al-Ushul, hlm. 31-33.
  62. Subhani, Khatirat, hlm. 128.
  63. Subhani, Wawancara, 4/200; Subhani, Mukadimah Buku Lamahat al-Ushul, hlm. 32.
  64. Sabiri Hamadani, Khatirat Ayatullah Sabiri Hamadani, hlm. 49-50.
  65. Muntazhari, Khatirat Ayatullah Muntazhari, 1/193-194.
  66. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Al-Khalal fi al-Salat, hlm. 9; Subhani, Wawancara, 4/200.
  67. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Sir Mubarazat Imam Khomeini dar Ayinih-i Asnad bi Riwayat SAVAK, 1/38.
  68. Musawi Bujnurdi, Wawancara, 4/205.
  69. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Al-Khalal fi al-Salat, hlm. 9.
  70. Girami, Khatirat Ayatullah Muhammad Ali Girami, hlm. 172-173.
  71. Ashtiyani, Wawancara, 3/194-195; Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/58.
  72. 'Iraqchi, Partuw-i Aftab, Khatirat Hadhrat Ayatullah Hajj Syaikh Ali 'Iraqchi, hlm. 171-172.
  73. Ashtiyani, Wawancara, 3/195; Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/58.
  74. Banifadhl, Khatirat Ayatullah Murtadha Banifadhl, hlm. 112.
  75. Dhakeri, Thulu'-i Khurshid, Sal-syumar-i Zindigani-yi Imam Khomeini Quddisa Sirruh, hlm. 261-263; Subhani, Wawancara, 4/195.
  76. Aminiyan, Khatirat, hlm. 32; Subhani, Khatirat, hlm. 128.
  77. Khwansari, Khatirat, hlm. 92-93.
  78. Ruhani, Nahdzat-i Imam Khomeini, 1/56; Aminiyan, Khatirat, hlm. 32; Malakuti, Khatirat Ayatullah Muslim Malakuti, hlm. 35.
  79. Muthahhari, 1/441; Jawadi Amuli, Bunyan-i Marshush, Imam Khomeini Quddisa Sirruh dar Bayan wa Banan-i Ayatullah Jawadi Amuli, hlm. 28.
  80. Syubairi Zanjani, Poygah-i Ittila'-Risani wa Khabari-yi Jamaran.
  81. Badala, Khatirat, hlm. 48; Yathribi, Khatirat, hlm. 255.
  82. Aminiyan, Khatirat, hlm. 32.
  83. Muthahhari, Majmu'ah Atsar Ustad Syahid Muthahhari, 1/441.
  84. Subhani, Wawancara, 4/203.
  85. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Syarh Chihil Hadith, hlm. 1.
  86. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Mukadimah Buku Jihad Akbar, hlm. 8.
  87. Saburi Qummi, Wawancara, hlm. 14.
  88. Aminiyan, Rukh-i Nigar dar Shafay-i Astanih, Khatirat Ayatullah Muhammad Ali Aminiyan, hlm. 140.

Daftar Pustaka

  • 'Amid Zanjani, Abbas Ali. Riwayati az Inqilab-i Islami-yi Iran, Khatirat Hujjatul Islam wa al-Muslimin Abbas Ali 'Amid Zanjani. Susunan dan penelitian oleh Haji-Beigi Kunduri. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1379 HS.
  • 'Amid Zanjani, Abbas Ali. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • 'Amid Zanjani, Abbas Ali. Wawancara, Majalah Hauzah, Nomor 37-38, 1369 HS.
  • 'Iraqchi, Ali. Partuw-i Aftab, Khatirat Hadhrat Ayatullah Hajj Syaikh Ali 'Iraqchi. Diupayakan oleh Abdurrahim Abadzari. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1389 HS.
  • Ahmadi, Hamid. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Amini, Ibrahim. Khatirat Ayatullah Ibrahim, Hajj-Amini Najafabadi. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1392 HS.
  • Aminiyan, Muhammad Ali. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Aminiyan, Muhammad Ali. Rukh-i Nigar dar Shafay-i Astanih, Khatirat Ayatullah Muhammad Ali Aminiyan. Susunan Muhammad Hadi Fallah. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1395 HS.
  • Ashtiyani, Sayyid Jalaluddin. "Dar Ratsa-yi Imam-i 'Arifan". Majalah Kayhan Andisyeh, Nomor 24, 1368 HS.
  • Ashtiyani, Sayyid Jalaluddin. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Ashtiyani, Sayyid Jalaluddin. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan kedua, 1380 HS.
  • Badala, Husain. Haftad Sal Khatirih az Ayatullah Sayyid Husain Badala. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1378 HS.
  • Badala, Husain. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Banifadhl, Murtadha. Khatirat Ayatullah Murtadha Banifadhl. Diupayakan oleh Abdurrahim Abadzari. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1386 HS.
  • Dawani, Ali. Imam Khomeini dar Ayinih-yi Khatirih-ha. Tehran, Muthahhar, cetakan pertama, 1373 HS.
  • Dhakeri, Ali Akbar. Thulu'-i Khurshid, Sal-syumar-i Zindigani-yi Imam Khomeini Quddisa Sirruh. Qum, Bustan Kitab, cetakan kedua, 1391 HS.
  • Dhawabithi, Mahdi. Pizhuhisyi dar Nizham-i Thalabigi. Tehran, Bungah-i Tarjumah wa Nasyr-i Kitab, 1359 HS.
  • Dhiya'i, Ali Akbar. Nahdzat-i Falsafi-yi Imam Khomeini. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1381 HS.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad. Wawancara, Majalah Hauzah, Nomor 32, 1368 HS.
  • Farahani, Mujtaba. Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Ghayuri, Sayyid Ali. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Girami, Muhammad Ali. Khatirat Ayatullah Muhammad Ali Girami. Susunan Muhammad Ridha Ahmadi. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1381 HS.
  • Hasyimi Rafsanjani, Akbar. Imam bih Riwayat-i Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, Abdurrazzaq Ahwazi. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1385 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Shahifat al-Imam. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan kelima, 1389 HS.
  • Intisyari, Ali. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Bunyan-i Marshush, Imam Khomeini Quddisa Sirruh dar Bayan wa Banan-i Ayatullah Jawadi Amuli. Qum, Asra, cetakan kedelapan, 1384 HS.
  • Khaz'ali, Abu al-Qasim. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Khomeini, Sayyid Mustafa. Ta'liqat 'ala al-Hikmah al-Muta'aliyah. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Khwansari, Sayyid Mustafa. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Ma'rifat, Hadi. Ayinih-daran-i Haqiqat, Musahabih-ha-yi Majallih-yi Hauzah. Bustan Kitab, cetakan pertama, 1381 HS.
  • Malakuti, Muslim. Khatirat Ayatullah Muslim Malakuti. Susunan Abdurrahim Abadzari. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1385 HS.
  • Muhtasyamipur, Sayyid Ali Akbar. Khatirat Siyasi. Tehran, Hauzih-yi Hunari Adabiyyat Inqilab-i Islami, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Muhammadi Gilani, Muhammad. "Mulazim-i Wali-yi Khuda". Majalah Syahid Yaran, Nomor 16, 1358 HS.
  • Muntazhari, Husain Ali. Khatirat Ayatullah Muntazhari. Qum, t.p, 1379 HS.
  • Muntazhari, Husain Ali. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Murtadhawi Langrudi, Sayyid Muhammad Hasan. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Musawi Ardabili, Sayyid Abdul Karim. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Musawi Bujnurdi, Sayyid Muhammad. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'ah Atsar Ustad Syahid Muthahhari. Tehran, Shadra, cetakan kesepuluh, 1380 HS.
  • Nashiri, Muhammad Ridha. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Raja'i, Gholam Ali. Bardasyt-hayi az Sirih-yi Imam Khomeini. Tehran, 'Uruj, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Ridha'i Isfahani, Muhammad Ali. Syiwih-ha-yi Tahshil wa Tadris dar Hauzih-ha-yi 'Ilmiyyah. Qum, Daftar-i Tablighat-i Islami, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Rudbari, Mujtaba. Khatirat, dicetak dalam Shahifih-yi Dil. Diupayakan oleh Hamid Bashirat-Manesh dan lain-lain. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1377 HS.
  • Ruhani, Sayyid Hamid. Nahdzat-i Imam Khomeini. Tehran, 'Uruj, cetakan kelima belas, 1381 HS.
  • Sabiri Hamadani, Ahmad. Khatirat Ayatullah Sabiri Hamadani. Susunan Sayyid Mustafa Sayyid Shadiqi. Tehran, Pusat Dokumen Revolusi Islam, cetakan pertama, 1384 HS.
  • Saburi Qummi, Ja'far. Wawancara, Majalah Hauzah, Nomor 84, 1376 HS.
  • Subhani, Ja'far. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Subhani, Ja'far. Mukadimah Buku Lamahat al-Ushul, Taqrir Imam Khomeini. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan kedua, 1387 HS.
  • Subhani, Ja'far. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Syari'ati, Ali. Rawisy-i Syinakht-i Islam. Tehran, Chapakhsh, cetakan keempat, 1379 HS.
  • Syubairi Zanjani, Sayyid Musa. Jur'ih-i az Darya. Qum, Yayasan Bibliografi Syiah, cetakan pertama, 1389 HS.
  • Syubairi Zanjani, Sayyid Musa. Poygah-i Ittila'-Risani wa Khabari-yi Jamaran, 18/1/1398 HS.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Barrasi-ha-yi Islami. Diupayakan oleh Sayyid Hadi Khusrausyahi. Qum, Bustan Kitab, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Thaqafi, Khadijah. Wawancara, dicetak dalam Pa bih Pa-yi Aftab. Susunan Amir Ridha Sutudeh. Tehran, Penerbit Panjireh, cetakan pertama, 1380 HS.
  • Yathribi, Mahdi. Khatirat, dicetak dalam Silsilih-yi Muy-i Dust, Khatirat Dauran Tadris Imam Khomeini. Susunan Mujtaba Farahani. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Al-Khalal fi al-Salat, karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan pertama, 1378 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Jawahir al-Ushul, karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan kedua, 1386 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Jihad Akbar, karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan kedelapan belas, 1387 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah, karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan keenam, 1386 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Syarh Chihil Hadith, karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan keempat, 1388 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Mukadimah Buku Taqrirat Falsafah Imam Khomeini, Taqrir Sayyid Abdul Ghani Ardabili. Tehran, cetakan kedua, 1385 HS.
  • Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini. Sir Mubarazat Imam Khomeini dar Ayinih-i Asnad bi Riwayat SAVAK. Tehran, cetakan pertama, 1386 HS.

Pranala Luar