Lompat ke isi

Adab al-Salat (buku)

Dari Wiki Imam Khomeini

Adab al-Salat, adalah sebuah buku tentang adab-adab hati dan batin dari salat karya Imam Khomeini, berbahasa Persia.

Tiga tahun setelah menulis buku Sirr al-Salat, karena Imam Khomeini memandang isinya tidak sesuai untuk masyarakat umum, pada tahun 1321 HS beliau menulis buku Adab al-Salat dan berusaha untuk menjelaskan sebagian adab hati dari salat dengan ungkapan yang dapat dipahami oleh masyarakat awam.

Buku ini terdiri dari satu mukadimah, tiga makalah (bagian), dan penutup.

Makalah pertama dalam dua belas bab membahas adab-adab yang menjadi syarat tidak hanya dalam salat melainkan dalam seluruh ibadah.

Makalah kedua membahas tentang adab hati pada mukadimah (pendahuluan) salat dalam lima tujuan (maqsad), di mana setiap tujuan terdiri dari beberapa bab. Pada kelima tujuan tersebut dibahas mengenai adab hati dari "kesucian (taharah)", "pakaian orang yang salat", "tempat orang yang salat", "waktu", dan "menghadap kiblat (istiqbal)".

Makalah ketiga dalam delapan bab membicarakan tentang "hal-hal yang menyertai salat (muqaranat)".

Bagian penutup menyinggung dimensi irfani dari tasbihat arba'ah, rahasia-rahasia takibat salat, dan pentingnya tasbih Sayidah Fatimah (sa).

Imam Khomeini menghadiahkan buku ini kepada putranya Sayyid Ahmad Khomeini dan Fatimah Thabataba'i (istri Sayyid Ahmad Khomeini).

Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini untuk pertama kalinya menerbitkan buku ini pada tahun 1370 HS dalam 426 halaman. Buku ini juga telah dicetak dalam jilid 48 "Mausu'ah al-Imam al-Khomeini" pada tahun 1392 HS.

Sayyid Ahmad Fihri telah mensyarah dan menafsirkan buku Adab al-Salat dengan judul Parwaz dar Malakut (Terbang di Alam Malakut). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Urdu, dan Inggris.

Mukadimah

Memperkenalkan dan mengkaji salat dari aspek irfan dan akhlak, selain dari aspek fikih, kurang lebih telah lazim di kalangan para ulama agama. Aqa Buzurg Tihrani menyebutkan beberapa buku dengan judul Adab al-Salat; di antaranya Adab al-Salat karya Zainuddin bin Ali (Syahid Tsani) dan Adab al-Salat karya Aqa Najafi Isfahani.[1] Imam Khomeini menulis buku Adab al-Salat berdasarkan tradisi yang sama. Tiga tahun setelah menulis buku Sirr al-Salat, karena beliau memandang isinya tidak sesuai untuk masyarakat umum, pada tahun 1321 HS beliau menulis buku ini dan berusaha untuk menjelaskan sebagian adab hati dari salat dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat awam.[2] Dalam karya ini, sebagaimana karya-karya irfani beliau lainnya, Imam Khomeini memanfaatkan ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis, dan doa-doa. Prosa dari karya ini bersifat pidato (khitabi), membimbing (irsyadi), berima (musajja'), dan sering kali sejajar, serta di sela-selanya terlihat gaya bahasa kontras (shana'ah tadhadd) atau tibaq. Istilah-istilah irfani adalah kata-kata yang paling mencolok dalam buku ini. Karakteristik lainnya, selain penggunaan alegori (tamtsil), adalah kesamaannya dengan tulisan-tulisan para urafa lainnya dalam penyampaian yang akrab dan emosional.[3]

Laporan Konten

Buku ini terdiri dari satu mukadimah, tiga makalah, dan penutup.

Mukadimah

Dalam mukadimah buku disebutkan bahwa sebagaimana tidak mematuhi adab zahir salat akan mengakibatkan kebatilan atau kecacatan zahirnya, ketidakpedulian terhadap adab batin juga akan menyebabkan kebatilan atau kecacatan batin dari salat tersebut.[4]

Makalah Pertama

Makalah pertama dalam dua belas bab membahas adab-adab yang menjadi syarat tidak hanya dalam salat melainkan dalam seluruh ibadah.

Bab pertama membahas tentang "Kemuliaan (Izz) Rububiah dan Kehinaan (Dzull) Ubudiah" yang merupakan salah satu kedudukan penting bagi seorang salik (pesuluk); karena semakin besar sifat egoisme (khudbini) dan mementingkan diri sendiri dalam diri manusia, maka semakin jauh jaraknya dari kesempurnaan kemanusiaan. Tentu saja, manusia mampu mencapai hakikat ubudiah dan memahami sebagian dari rahasia ibadah dengan cara bertawasul kepada Tuhan dan para wali Ilahi (as) yang sempurna.

Bab kedua membahas tentang "Empat Tingkatan Maqamat Ahli Suluk"—yang jumlahnya sebanyak jiwa makhluk-makhluk Tuhan—dan secara relevan membicarakan tentang ilmu, iman, iktminan (ketenteraman), dan musyahadah. Imam Khomeini meyakini bahwa jika seorang salik menempuh jalan dengan langkah suluk keilmuan, ia telah mencapai kedudukan pertama dari kemanusiaan; namun ia tidak boleh mengurung dirinya dalam ikatan hijab ini; karena hijab ilmu adalah hijab terbesar. Templat:Lihat juga Selanjutnya, ia harus mengukir pemahaman-pemahaman ilmiah pada lembaran hati dan membebaskan dirinya dari ikatan serta hijab ilmu agar dapat mencapai kedudukan beriman kepada hakikat-hakikat, dan pada tahap berikutnya yang merupakan kesempurnaan iman, ia akan mencapai kedudukan iktminan. Pada kedudukan keempat, salik merasakan cahaya Allah di dalam hati dan melihat dirinya tenggelam dalam lautan Allah yang tak terbatas.[5]

Bab ketiga adalah tentang "Khusyuk" yang merupakan hal yang wajib bagi seorang salik khususnya di dalam salat. Tingkatan khusyuk bergantung pada tingkat pemahaman terhadap keagungan (jalal) atau keindahan (jamal) Allah; oleh karena itu, sebagian hati bersifat cinta ('isyqi) dan merupakan manifestasi keindahan, sedangkan sebagian hati lainnya bersifat takut (khaufi) dan merupakan manifestasi keagungan.[6] Templat:Lihat juga

Bab keempat dikhususkan untuk "tuma'ninah (ketenangan)" dalam salat dan bagaimana cara memperolehnya; dengan makna bahwa seorang salik melaksanakan ibadah karena ketenangan hati dan ketenteraman pikiran, sehingga atsar (dampak) dari ibadah tersebut dapat terwujud di dalam alam malakut hati dan hati menjadi bersinar serta bercahaya dari cahaya iman.[7] Templat:Lihat juga

Bab kelima membahas tentang perlindungan salat dan ibadah-ibadah lainnya dari campur tangan setan serta dampak buruk dari sikap meremehkan hal ini; jika ibadah manusia murni dari campur tangan setan dan menyatu dengan wilayah (kepemimpinan) Nabi (saw) dan Amirulmukminin (as), maka ibadah ini akan menjadi makanan bagi jiwa dan hati manusia serta mengantarkan salik pada pendekatan diri kepada Allah (qurb ilallah).[8]

Bab keenam membahas kegembiraan dan kebahagiaan dalam ibadah yang merupakan adab hati dari salat dan ibadah-ibadah lainnya; dengan mematuhinya, salik akan mencapai hasil yang baik dan diinginkan seperti kebahagiaan hati, kelapangan pikiran, dan penyingkapan beberapa rahasia ibadah.[9]

Bab ketujuh dikhususkan pada cara memahamkan hakikat-hakikat ibadah kepada hati, dan bab kedelapan hingga kesepuluh membahas kedudukan kehadiran hati (hudur al-qalb) dan konsekuensi-konsekuensi dari ketiadaan kehadiran hati dalam salat. Riwayat-riwayat tentang kehadiran hati, penghalang-penghalang kehadiran hati, dan cara menghilangkannya telah disebutkan secara proporsional dalam bab-bab ini.[10]

Dua bab terakhir dari makalah ini khusus membahas tentang pendidikan dan pembinaan kekuatan lahiriah serta batiniah dari jiwa dan pembahasan-pembahasan praktis untuk menundukkan kekuatan khayal serta kekuatan waham (ilusi) agar manusia secara bertahap dapat mengatasi setan khayal dan merasakan manisnya kehadiran hati. Cinta dunia (hubb al-dunya) diperkenalkan sebagai faktor utama yang memecah belah khayalan dalam perjalanan ini. Imam Khomeini dalam buku Syarh Chihil Hadis telah memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kerugian dan kebinasaan yang timbul dari kecintaan pada diri sendiri (hubb nafsyi) ini.[11]

Makalah Kedua

Makalah kedua buku ini membahas tentang adab hati pada mukadimah (pendahuluan) salat dalam lima tujuan (maqsad), di mana setiap tujuan terdiri dari beberapa bab.

Tujuan Pertama

Tujuan pertama membahas tentang "kesucian (taharah)" dan mencakup tujuh bab. Imam Khomeini pertama-tama menjelaskan secara singkat rahasia taharah yang merupakan syarat yang diperlukan bagi naiknya (mikraj) seorang salik menuju kedudukan kedekatan dengan Allah Swt., dan beliau menulis bahwa selama salik tidak menyucikan dan membersihkan kekuatan-kekuatan jiwa dari maksiat dan kotoran, ia tidak akan mendapatkan kemenangan-kemenangan batin (futuhat bathiniyyah) yang merupakan tujuan tertingginya.[12]

Namun, taharah memiliki beberapa tingkatan: Tingkatan pertamanya adalah melaksanakan sunah-sunah Ilahi dan mematuhi perintah-perintah Allah Swt. Tingkatan yang lebih tinggi adalah kesucian hati dan kepasrahannya kepada Tuhan. Proses ini terus berlanjut hingga penghambaan (ubudiah) benar-benar sirna dan tersembunyi, serta sifat ketuhanan (rububiah) tampak dan bermanifestasi. Setelah ini pun masih ada tingkatan-tingkatan lain yang menurut Imam Khomeini tidak pantas disebutkan dalam buku ini.[13] Pada bagian ini, Imam Khomeini mengutip sebuah hadis dari Imam Shadiq (as) yang mengumpamakan, atau bahkan menakwilkan, air sebagai rahmat Allah Swt., karena air adalah pembersih najis-najis lahiriah dan manifestasi rahmat Ilahi di dalamnya lebih besar daripada wujud-wujud lainnya; namun jika penggunaan air tidak memungkinkan bagi salik, maka ia pertama-tama harus memperhatikan keterpaksaan dan kefakiran esensialnya agar sebuah pintu rahmat dibukakan baginya dan tanah, melalui kasih sayang dan kebaikan Allah Swt., dapat dianggap sebagai salah satu penyucinya.[14] Karena beberapa perbuatan, seperti janabah (berhadas besar), merupakan bentuk kefanaan dalam alam materi, kelalaian dari sisi spiritualitas, dan puncak dominasi sifat kebinatangan, maka diperintahkan untuk mandi (mandi wajib), yakni membasuh seluruh kerajaan jiwa yang telah fana di alam materi dan terjangkit oleh tipu daya setan.[15] Sebagai jawaban atas kelompok Sufi yang menganggap ibadah-ibadah lahiriah khusus untuk orang awam dan jahil, serta sebagai jawaban atas kelompok lain yang terjerumus pada sikap meremehkan dan menyangkal kedudukan-kedudukan spiritual sepenuhnya, Imam Khomeini mengatakan bahwa ritual-ritual formal dan adab lahiriah bukan hanya untuk mencapai hakikat hati dan spiritual, melainkan salah satu dari buah pencapaian hakikat-hakikat rohani. Dengan cara ini, para ahli makrifat dan pemilik hati menularkan makrifat-makrifat Ilahi dari batin menuju zahir, dan mereka menikmati serta mengambil manfaat dari setiap tingkatan lahiriah dan spiritual.[16]

Tujuan Kedua

Tujuan kedua yang terdiri dari dua tahapan (maqam) dikhususkan pada adab "Pakaian orang yang salat". Tahapan pertama membahas adab pakaian secara mutlak, pengaruh zahir pada batin, serta dampak buruk dari sikap ekstrem dan meremehkan dalam jenis serta bentuk pakaian. Tahapan kedua membahas fungsi menutupi dari pakaian orang yang salat, menyucikan batin dari maksiat dan akhlak tercela, serta pertimbangan hati terkait menutupi aurat, yakni menutupi segala kekurangan dan kerusakan akhlak dengan balutan akhlak yang mulia.[17]

Tujuan Ketiga

Tujuan ketiga membahas "Tempat orang yang salat" dalam dua bab, dan mendiskusikan adab setiap tempat salik berdasarkan tingkatan eksistensinya seperti tingkatan alam materi, kekuatan batin jiwa, dan tingkatan gaib hati, serta adab hati terkait diperbolehkannya (mubahnya) tempat tersebut guna menjaga dari bahaya campur tangan iblis.[18]

Tujuan Keempat

Dalam tujuan keempat, Imam Khomeini menyinggung adab hati terkait "waktu" dalam dua bab. Secara proporsional seiring menjaga Waktu salat, beliau mengingatkan akan derajat para ahli makrifat yang menantikan waktu perjumpaan dan munajat dengan Sang Kesempurnaan Mutlak, seraya menyebutkan bahwa menjaga waktu bergantung pada kadar makrifat (pengetahuan) masing-masing terhadap kedudukan suci Sang Pencipta, dan beliau mengakhiri tujuan ini dengan mengutip riwayat-riwayat dari Maksumin (as) mengenai waktu salat.[19]

Tujuan Kelima

Tujuan terakhir menyinggung adab "istiqbal (menghadap kiblat)". Menurut Imam Khomeini, istiqbal (menghadap) ke arah Kakbah dan memalingkan diri dari seluruh arah lainnya bertujuan untuk membangunkan fitrah serta memunculkan cahaya fitrah dari berbagai hijab agar orang yang melaksanakan salat dapat memahamkan kepada hati bahwa selain pancaran Zat Suci Sang Kebenaran (Tuhan), segalanya adalah fana dan akan lenyap.[20]

Makalah Ketiga

Makalah ketiga dalam delapan bab membicarakan hal-hal yang menyertai salat (muqaranat salat). Pada bab pertama, Imam Khomeini menyebut azan sebagai pengumuman kepada kekuatan-kekuatan malakut maupun materi serta tentara-tentara Ilahi untuk hadir dalam kesucian Sang Pencipta, serta menganggap iqamah sebagai penegakan kekuatan-kekuatan ini di hadapan Yang Mahabenar, sementara adabnya adalah khauf (rasa takut) dan khasyah, rasa malu (haya) dan canggung, serta harapan yang teguh (raja') terhadap rahmat-Nya yang tak terhingga. Adab dan rahasia takbir-takbir awal azan, adab kesaksian atas keilahian dan keterkaitannya dengan azan, penafsiran irfani mengenai "hayya 'ala al-shalat" dan "qad qamat al-shalat" serta hubungannya dengan bagian-bagian azan sebelumnya, merupakan pembahasan lain dalam bab ini. Imam Khomeini dalam bab yang berjudul "Peringatan Irfani" menjelaskan tingkatan-tingkatan kesaksian: Tingkatan pertama adalah kesaksian secara lisan, dan jika kesaksian pada tingkatan ini tidak disertai dengan kesaksian hati, maka ia tidak lain hanyalah tipu daya dan kemunafikan. Tingkatan kedua adalah kesaksian perbuatan, yakni kesaksian dari tindakan anggota tubuh; dengan makna bahwa orang yang salat harus menunjukkan dalam tindakannya bahwa di dalam lingkaran eksistensi, ia tidak menganggap seorang pun sebagai pihak yang memberi pengaruh kecuali Allah. Tingkatan ketiga adalah kesaksian hati di mana tauhid af'ali (keesaan perbuatan) memanifestasi di dalam hati seorang arif. Tingkatan keempat adalah kesaksian zat atau wujud, yang terealisasi pada para wali Ilahi (as) yang sempurna.[21] Bab kedua dari makalah ini dikhususkan pada penjelasan dimensi irfani dari "berdiri (qiyam)" dan mengutip riwayat-riwayat tentang kondisi Maksumin (as) ketika qiyam. Dalam ungkapan irfani, "qiyam" baik secara lafal maupun bentuk posturnya mengisyaratkan pada tauhid af'ali. Bab ketiga dikhususkan untuk "Niat" yang di dalamnya disinggung mengenai keikhlasan dalam niat dan tingkatan-tingkatan ikhlas. Imam Khomeini merinci delapan tingkatan ikhlas sebagai berikut:

  1. Menyucikan amal dari niat mencari keridaan makhluk;
  2. Menyucikan amal dari tujuan duniawi yang fana;
  3. Menyucikan amal dari keinginan mencapai surga jasmani, bidadari, dan istana surga;
  4. Menyucikan amal dari rasa takut terhadap hukuman (azab) dan siksaan jasmani.
  5. Menyucikan amal dari keinginan mencapai kelezatan rohani yang kekal;
  6. Menyucikan amal dari rasa takut tidak mencapai kelezatan dan kebahagiaan tersebut;
  7. Menyucikan amal dari keinginan meraih surga perjumpaan (liqa').
  8. Menyucikan amal dari rasa takut akan perpisahan.

Tentu saja, dua tingkatan terakhir di sisi Ahlullah (orang-orang yang dekat dengan Allah) merupakan kesempurnaan keikhlasan.[22] Selain itu, salik harus memurnikan dirinya dari melihat dan merasa bangga atas amalnya sendiri. Bab keempat dikhususkan pada penafsiran surah "Al-Fatihah", "Al-Ikhlas (Tauhid)", dan "Al-Qadr", serta di bawah dua "misbah (pelita)"—yang masing-masing dibagi lagi menjadi beberapa bab—dibicarakan tentang adab membaca (qiraah) Al-Qur'an secara mutlak dan sedikit tentang adab membaca dalam salat.

Misbah pertama dari bab keempat, yang terdiri dari enam bab, membahas tentang adab pengagungan terhadap Al-Qur'an, komprehensivitas Al-Qur'an, jalan dan penghalang dalam mengambil manfaat dari Al-Qur'an, adab bertafakur dalam membaca Al-Qur'an, serta dampak-dampak tafakur.

Misbah kedua dalam tujuh bab dikhususkan untuk hal-hal berikut: penjelasan dan pemaparan tingkatan, bacaan, serta adab-adab ubudiah dalam membaca, adab dan rukun-rukun isti'azah, adab memasuki tahapan "tasmiyah (bismillah)"—sebuah tahapan di mana tanda Ilahi disematkan pada dahi seorang hamba; penafsiran Surah Al-Fatihah dengan sub-judul seperti penelitian irfani, pembahasan dan pencarian, penelitian hikmah, ilham arasy, dan kebangkitan keimanan, serta penafsiran tentang nama teragung (ism a'zham) Allah, rahman dan rahim, hamd (pujian), rububiah, kepemilikan Sang Kebenaran, Arasy, agama, ibadah, memohon pertolongan (isti'anah), dan petunjuk menuju jalan yang lurus (shirath al-mustaqim); penafsiran Surah Al-Ikhlas beserta sejumlah kelembutan irfaninya, dan penjelasan mengenai sifat-sifat afirmatif (tsubutiyah) serta sifat-sifat negatif (salbiyah) Sang Pencipta, penafsiran Surah Al-Qadr, dan penjelasan mengenai Lailatulkadar, serta turunnya malaikat dan roh, dan dua peringatan irfani.[23] Imam Khomeini mengkhususkan bab kelima dan keenam dari makalah ketiga untuk membahas rahasia rukuk yang mengisyaratkan pada tauhid sifat, serta sujud yang mengisyaratkan pada tauhid zat dan fana. Pada bab ketujuh, beliau membahas rahasia-rahasia "tasyahud" dan menjelaskan perbedaan antara kesaksian di awal salat dengan kesaksian di akhir salat, kemudian melanjutkan dengan tulisan tentang rahasia-rahasia "salam" kepada makhluk setelah kembali kepada keragaman (katsrah).[24]

Penutup

Pada bagian penutup buku, setelah menjelaskan dimensi-dimensi irfani dari tasbihat arba'ah, beliau menganggap rahasia qunut sebagai bentuk melepaskan diri dari selain Allah, dan di akhir beliau menyinggung rahasia-rahasia takibat salat dan pentingnya tasbih Sayidah Fatimah (sa).[25]

Status Buku

Sayyid Ahmad Fihri Zanjani menyusun buku Adab al-Salat dalam dua jilid beserta pembahasan-pembahasan yang diambil dari buku Asrar al-Salat karya Syahid Tsani, Asrar al-Salat karya Qadhi Sa'id Qummi, dan Asrar al-Salat karya Mirza Jawad Maliki Tabrizi, lalu menerbitkannya dengan judul "Parwaz dar Malakut" (Syarah dan Tafsir Adab al-Salat Imam Khomeini); Parwaz dar Malakut pertama kali diterbitkan oleh penerbit "Nahdhat Zanan Musalman", kemudian oleh penerbit "Faidh Kashani" dalam 593 halaman; selanjutnya, penerbit Astan Quds Razavi juga menerbitkannya dengan judul yang sama pada tahun 1366 HS dalam 423 halaman. Fihri mengingatkan bahwa Adab al-Salat karya Imam Khomeini dalam buku Parwaz dar Malakut disertakan dengan penjelasan dan modifikasi, tanpa menyebutkan nama beliau secara eksplisit—karena diterbitkan pada masa Rezim Pahlavi—dan penulis hanya disebut dengan julukan "Guru Ilahi Kami"; namun pada cetakan keduanya yang bertepatan dengan kemenangan Revolusi Islam, nama penulis disebutkan dengan jelas, dan hampir seluruh isi buku Adab al-Salat dimuat dalam dua jilid Parwaz dar Malakut.[26]

Penerbit Nashir dan Payam Azadi (Tehran) pada tahun 1368 HS mencetak buku Adab al-Salat dalam 424 halaman, dan penerbit Darul Kitab (Qum, cetakan kedua, 1363 HS) menerbitkannya dalam dua jilid. Pada akhirnya, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini menerbitkan buku ini pada tahun 1370 HS dengan kualitas yang berbeda dalam 426 halaman, disertai dengan indeks-indeks teknis, dan dalam ukuran menteri (waziri). Dua surat persembahan beserta teks tulisan tangannya terlihat pada cetakan ini, yang menunjukkan bahwa pada tahun 1363 HS, Imam Khomeini menghadiahkan buku ini kepada putranya Sayyid Ahmad Khomeini dan Fatimah Thabataba'i (istri Sayyid Ahmad Khomeini). Selain itu, yayasan ini pada cetakan lainnya melampirkan naskah manuskrip buku ini pada edisi cetaknya, dan menerbitkannya dalam 737 halaman. Di beberapa halaman dari naskah tulisan tangan Imam Khomeini terdapat catatan pinggir yang ditulis oleh beliau yang kemudian ditambahkan ke dalam teks, namun sebagian di antaranya tidak disertakan dalam versi cetak[27]; namun pada jilid 48 dari "Mausu'ah al-Imam al-Khomeini" yang diterbitkan pada tahun 1392 HS/ 1434 H, naskah tulisan tangan buku tersebut dijadikan acuan dan kekurangan ini telah diperbaiki. Buku ini memuat daftar isi terperinci yang ditulis oleh Imam Khomeini dalam tujuh halaman naskah tulisan tangan. Sayyid Ahmad Fihri menerjemahkan buku Adab al-Salat ke dalam bahasa Arab pada tahun 1406 H/ 1986 M dan Mu'assasah al-A'lami li al-Matbu'at di Beirut menerbitkannya dengan judul "Al-Adab al-Ma'nawiyyah li al-Salat". Kemudian, Lembaga Penerbit Ilmiah-Budaya pada tahun 1419 H/ 1999 M, bertepatan dengan seratus tahun kelahiran Imam Khomeini, mencetak dan menerbitkannya dalam 540 halaman, lengkap dengan daftar isi dan alamat ayat serta riwayat. Pada tahun yang sama, ringkasan dari buku ini dengan judul "Mukhtashar al-Adab al-Ma'nawiyyah li al-Salat" diterbitkan di Beirut. Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini juga telah menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Urdu.[28] Salar Manafi juga telah menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris dan untuk memastikan keakuratan terjemahan, ia mendapat bantuan dari Katy J. Williams, seorang muslimah penutur bahasa Inggris.[29]

Catatan Kaki

  1. Imam Khomeini, Adab al-Salat, 1/21-22.
  2. Mu'assasah Tanzhim, Mukadimah Adab al-Salat, hlm. 7.
  3. Akbari, "Wizhigihayi Sabkiyi Kitabi Adab al-Salat Ta'lifi Hadrati Imam Khomeini", hlm. 191.
  4. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 2.
  5. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 10-12.
  6. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 13.
  7. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 16-19.
  8. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 19-22.
  9. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 23-24.
  10. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 28-43.
  11. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 43-53.
  12. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 55.
  13. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 59-61.
  14. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 67.
  15. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 74.
  16. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 79.
  17. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 85-100.
  18. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 101-107.
  19. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 108-114.
  20. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 115-120.
  21. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 120-135.
  22. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 146-166.
  23. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 180-347.
  24. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 348-369.
  25. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 370-379.
  26. Mu'assasah Tanzhim, Mukadimah, Mausu'ah al-Imam al-Khomeini, Adab al-Salat, 48/9.
  27. Lihat: Imam Khomeini, Adab al-Salat, 113, 154, dan 162 versi naskah tulisan tangan.
  28. Mu'assasah Tanzhim, Fihrist Atsar, hlm. 1.
  29. Akbari, "Wizhigihayi Sabkiyi Kitabi Adab al-Salat Ta'lifi Hadrati Imam Khomeini", 19/ 170-179.

Daftar Pustaka

  • Akbari, Manuchihr. "Wizhigihayi Sabkiyi Kitabi Adab al-Salat Ta'lifi Hadrati Imam Khomeini". Majalah Hudur, Nomor 19, 1376 HS.
  • Aqa Buzurg Tihrani, Muhammad Muhsin. Al-Dhari'ah ila Tasanif al-Syiah. Beirut, Dar al-Adhwa', cetakan ketiga, 1403 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Adab al-Salat. Tehran, Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini, cetakan keenam belas, 1388 HS.
  • Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini. Fihrist Atsar Mu'assasah Tanzhim... Sal 1368-1384. Tehran, t.t.
  • Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini. Mukadimah Buku Adab al-Salat karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan keenam belas, 1388 HS.
  • Mu'assasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini. Mausu'ah al-Imam al-Khomeini, Mukadimah Buku Adab al-Salat karya Imam Khomeini. Tehran, cetakan kedua puluh satu, 1392 HS.

Pranala Luar