Lompat ke isi

Tasyahud

Dari Wiki Imam Khomeini

Tasyahud berarti memberikan kesaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Rasul-Nya. Kesaksian dalam salat ini dianggap sebagai semacam pembaruan iman dan pengulangan kembali akidah-akidah tauhid.

Signifikansi dan Kedudukan Tasyahud

Tasyahud dalam terminologi agama dan irfani berarti memberikan kesaksian atas keesaan Sang Kebenaran (Tuhan) dan risalah Rasulullah (saw).[1] Para ahli makrifat, dengan memperhatikan riwayat-riwayat yang ada mengenai tasyahud dalam salat, telah membahas kedudukan tasyahud, jenis-jenisnya, dan hubungannya dengan wilayah.[2] Imam Khomeini juga, dengan memperhatikan beberapa riwayat, telah membahas tentang tasyahud, kedudukannya dalam salat, hakikat, dan hubungannya dengan wilayah.[3]

Hakikat Tasyahud

Dalam pandangan ahli makrifat, hakikat tasyahud adalah kehadiran di hadapan Tuhan; karena pada kedudukan tasyahud, seorang salik terbebas dari pluralitas dan keragaman (katsrah) serta mencapai kesatuan (wahdah). Orang yang melaksanakan salat dalam keadaan tasyahud, menyaksikan Sang Kebenaran (Tuhan) dan tenggelam di dalam-Nya; oleh karena itu, dalam tasyahud keragaman tidak menjadi hijab (penghalang) bagi kesatuan dan kesatuan tidak menjadi hijab bagi keragaman; sehingga ia memberikan kesaksian atas keesaan Allah dan bahwa semua nama (asma) adalah milik-Nya, dan tidak ada yang bersekutu dengan-Nya di dalamnya.[4] Orang yang melaksanakan salat dalam tasyahud bersaksi atas keesaan dan ketunggalan Tuhan Yang Maha Tinggi serta menafikan segala bentuk kesyirikan dari Allah Swt. Selain itu, dalam tasyahud ia memberikan kesaksian atas status hamba dari Rasulullah (saw). Pada hakikatnya, pengakuan dan kesaksian ini merupakan semacam pembaruan iman dan pengulangan kembali akidah tauhid yang suci.[5]

Imam Khomeini juga memandang hakikat tasyahud sebagai keluarnya kefanaan (fana) menuju kekekalan (baqa') dan dari kesatuan (wahdah) menuju keragaman (katsrah), serta meyakini bahwa salik yang melaksanakan salat harus mengetahui bahwa hakikat salat adalah pencapaian tauhid yang hakiki dan kesaksian atas keesaan Sang Kebenaran yang mengalir di seluruh salat, dan ini adalah rahasia dari sifat "Awal" dan "Akhir" Sang Kebenaran (Tuhan), sebuah rahasia yang merupakan perjalanan dari Allah dan menuju Allah, oleh karena itu hati salik dalam perjalanan Ilahi ini, kesaksiannya haruslah hakiki dan suci dari kemunafikan (nifak) serta kesyirikan.[6]

Imam Khomeini, dalam menjelaskan perbedaan kesaksian di awal salat dan kesaksian di akhir salat, meyakini bahwa kesaksian di awal salat dan sebelum suluk adalah kesaksian ta'abbudi (kepatuhan) atau ta'aqquli (rasional) di mana salik masih berada dalam penentuan (ta'ayyunat) makhluk, namun kesaksian di akhir salat, yakni tasyahud, adalah akhir dari suluk dan melampaui penentuan makhluk serta mencapai kedudukan haqqi (Tuhan) dan kembali dari kesatuan menuju keragaman, di mana kesaksian semacam ini adalah kesaksian hakiki dan tamakkuni (kemapanan).[7]

Tasyahud dan Masalah Wilayah

Orang yang melaksanakan salat dalam tasyahud memberikan kesaksian atas status hamba Rasulullah, dan selawat wajib yang dikirimkan dalam tasyahud salat kepada Nabi Akram (saw) dan Keluarga yang suci (as) telah disyariatkan dan ditetapkan berdasarkan perintah Ilahi, yang mengisyaratkan pada ikatan dan hubungan yang mendalam antara kesaksian atas keesaan dan ketunggalan Allah di dalam salat dengan masalah wilayah.[8]

Imam Khomeini juga dalam menjelaskan hubungan tasyahud dengan wilayah meyakini bahwa, salik ketika bertasyahud atas risalah dan ubudiah Nabi (saw), memohon bantuan dan syafaat dari risalah Rasul Akram serta kedudukan wilayah Para Imam Suci (as) dan rahasia kemunculan (sifat) "Awal" dan "Akhir" yang merupakan bagian dari kedudukan wilayah, menjadi jelas baginya; karena makrifat tentang kehormatan Rasul Akram (saw) dan keluarganya sangatlah penting dan salik harus memahamkan kepada hatinya bahwa jika bukan karena penyingkapan (kasyf) total dari Muhammad, tidak akan ada orang yang menemukan jalan menuju ubudiah Sang Kebenaran serta mencapai kedudukan kedekatan (qurb) dan mikraj makrifat, karena Nabi dan Para Imam Maksum adalah cermin sempurna bagi manifestasi (tajalli) zat, sifat, dan perbuatan Sang Kebenaran.[9]

Tasyahud Tasyahud dalam terminologi fikih adalah bahwa orang yang melaksanakan salat pada rakaat kedua dari semua salat wajib, rakaat ketiga salat Magrib, dan rakaat keempat salat Zuhur, Asar, serta Isya, setelah sujud kedua dalam posisi duduk dan dalam keadaan tubuh tenang, mengucapkan zikir khusus.[10] Tasyahud adalah wajib, tetapi bukan merupakan rukun, dengan makna bahwa salat akan menjadi batal hanya jika ditinggalkan secara sengaja, dan jika karena kesalahan (lupa), salat tidak menjadi batal.[11] Zikir tasyahud juga diwajibkan dan yaitu dengan mengucapkan: "Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh, allahumma shalli 'ala muhammadin wa ali muhammad".[12]

Catatan Kaki

  1. Gauharin, Syarh Ishthilahat Tashawwuf, jld. 7, hlm. 47; Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, hlm. 378; Nasafi, Irsyad dar Ma'rifat, hlm. 192; Maibudi, Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar, jld. 10, hlm. 575.
  2. Maibudi, Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar, jld. 10, hlm. 575; Nasafi, Irsyad dar Ma'rifat, hlm. 192; Shaduq, Ilal al-Syara'i, jld. 2, hlm. 316; Maliki Tabrizi, Asrar al-Salat, hlm. 362-376; Hujwiri, Kasyf al-Mahjub, hlm. 378; Qummi, Asrar al-'Ibadat wa Haqiqat al-Salat, hlm. 181; Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, hlm. 863; Syirazi, Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah, jld. 1, hlm. 375.
  3. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 363; Sirr al-Salat, hlm. 108-112.
  4. Qusyairi, Latha'if al-Isyarat, jld. 1, hlm. 227; Qummi, Asrar al-'Ibadat wa Haqiqat al-Salat, hlm. 112-113; Kasyani, Majmu'ah Rasa'il wa Mushannafat, hlm. 442.
  5. Gauharin, Syarh Ishthilahat Tashawwuf, jld. 7, hlm. 47-48; Samandari, Asrar al-Salat, hlm. 175; Yazdanpanah, A'in Bandagi, hlm. 450-451; Syirazi, Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah, jld. 1, hlm. 375.
  6. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 362-363; Sirr al-Salat, hlm. 108-109.
  7. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 363.
  8. Farghani, Masyariq al-Darari, hlm. 90; Yazdanpanah, A'in Bandagi, hlm. 517-518.
  9. Imam Khomeini, Adab al-Salat, hlm. 363; Sirr al-Salat, hlm. 111-112.
  10. Syekh Thusi, Al-Mabsuth, jld. 1, hlm. 115; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 3, hlm. 227; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, jld. 1, hlm. 188; Taudhih al-Masa'il, hlm. 171.
  11. Syekh Thusi, Al-Mabsuth, jld. 1, hlm. 115; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 3, hlm. 227; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, jld. 1, hlm. 188; Taudhih al-Masa'il, hlm. 171.
  12. Syekh Thusi, Al-Mabsuth, jld. 1, hlm. 115; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 3, hlm. 227; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, jld. 1, hlm. 188; Taudhih al-Masa'il, hlm. 171.

Daftar Pustaka

  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirah al-Fuqaha. Qum, Mu'assasah Al al-Bait (as), 1414 H.
  • Farghani, Sa'iduddin. Masyariq al-Darari. Qum, Bustan Kitab, 1379 HS.
  • Gauharin, Shadiq. Syarh Ishthilahat Tashawwuf. Qum, Nasyr-i Zawa, 1388 HS.
  • Hujwiri, Ali bin Utsman. Kasyf al-Mahjub. Tehran, Thahuri, 1375 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Adab al-Salat. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, 1384 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Risalah Taudhih al-Masa'il. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan kedelapan, 1391 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Sirr al-Salat. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, 1378 HS.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Tehran, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1392 HS.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. Majmu'ah Rasa'il wa Mushannafat. Tehran, Mirats Maktub, 1380 HS.
  • Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar. Tehran, Amir Kabir, 1371 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Mu'assasah al-Wafa', 1404 H.
  • Maliki Tabrizi, Jawad. Asrar al-Salat. Tehran, Payam Azadi, 1372 HS.
  • Naraqi, Ahmad. Mi'raj al-Sa'adah. Intisyarat-i Hijrat, t.t.
  • Nasafi, Abdullah bin Muhammad. Irsyad dar Ma'rifat wa Wa'zh wa Akhlaq. Tehran, Mirats Maktub, 1385 HS.
  • Qummi, Qadhi Sa'id. Asrar al-'Ibadah wa Haqiqat al-Salat. Koreksi oleh Muhammad Baqir Sabzawari. Universitas Tehran, 1339 HS.
  • Qusyairi, Abdul Karim. Latha'if al-Isyarat. Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1428 H.
  • Samandari, Mahdi. Asrar al-Salat. Qum, Bustan Kitab, 1410 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syara'i. Qum, Kitabfurushi Dawari, t.t.
  • Syekh Thusi, Abu Ja'far Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah. Tehran, Al-Maktabah al-Murtadhawiyyah li Ihya' al-Atsar, 1387 H.
  • Syirazi, Abu al-Qasim. Manahij Anwar al-Ma'rifah fi Syarh Mishbah al-Syari'ah. Tehran, Khaniqah Ahmadi, t.t.
  • Yazdanpanah, Yadullah. A'in Bandagi wa Dildadagi. Qum, Nasyr-i Farda, 1398 HS.