Tadabbur Al-Qur’an
Tadabbur Al-Qur’anr' (bahasa Arab:{{Arabic| تدبّر) adalah merenungkan batin ayat-ayat Ilahi.
Pentingnya dan Kedudukan Tadabur
Dalam istilah agama, tadabur bermakna berpikir mendalam, perenungan (ta'ammul), serta pemeriksaan yang teliti dan sadar terhadap Al-Qur'an Al-Karim.[1] Salah satu masalah penting dalam ilmu-ilmu Al-Qur'an dan adab membaca Al-Qur'an adalah mentadaburi Al-Qur'an, sedemikian rupa sehingga para mufasir meyakini bahwa membaca Al-Qur'an tanpa tadabur di dalamnya tidak memiliki nilai yang berarti; sebab tujuan dari turunnya Al-Qur'an adalah pengamalan ayat-ayat, perhatian terhadap makna, dan perenungan terhadap ayat-ayat Ilahi.[2]
Imam Khomeini juga menaruh perhatian pada kedudukan dan pentingnya tadabur dalam ayat-ayat Ilahi. Ia meyakini bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan utama Al-Qur'an, tadabur dalam ayat-ayat Ilahi adalah suatu keharusan dan termasuk adab terbesar dalam membaca Al-Qur'an. Menurut keyakinannya, tadabur dalam makna-makna Al-Qur'an menyebabkan hati dapat menerima pengaruh dan mencapai maqam keyakinan (yaqin).[3]
Dampak Tadabur dalam Al-Qur'an
Menurut Imam Khomeini, dampak pertama dari pembacaan yang sadar dan tadabur dalam Al-Qur'an adalah menjadi jelasnya aspek wahyu (kewahyuan) Al-Qur'an bagi orang yang mentadaburinya. Hal ini dikarenakan adanya keteraturan dan keselarasan menakjubkan yang terlihat dalam konten dan gaya bahasa ayat-ayat Ilahi. Oleh karena itu, seseorang yang mentadaburi makna-makna Al-Qur'an, sedikit demi sedikit hal itu akan membekas di hatinya, dan pada tingkatan yang lebih tinggi, ia akan memahami hakikat "Iqra' wa Is'ad" (bacalah dan naiklah) di alam ini juga, hingga ia mendengar kalam Ilahi secara langsung (tanpa perantara) dari pembicaranya. Selain itu, dampak lain dari tadabur dalam Al-Qur'an adalah ma'rifat (pengetahuan) terhadap hakikat agama.
Menurut Imam Khomeini, jika seseorang melanjutkan jalan ini, tadabur dalam Al-Qur'an akan menjadi kebiasaan baginya, dan ia akan mencapai makrifat-makrifat hakiki Al-Qur'an serta pintu-pintu akan terbuka baginya yang sebelumnya belum pernah terbuka. Dampak lain dari tadabur adalah tercapainya ketenangan hati. Menurut Imam Khomeini, manusia harus memperoleh tingkatan kesehatan dan kesembuhan hati melalui tadabur dalam ayat-ayat Ilahi, mulai dari tingkatan terendah yaitu kekuatan duniawi (mulki) hingga mencapai puncaknya yaitu Qalb Salim (hati yang bersih). Dampak lain dari tadabur dalam Al-Qur'an adalah terbebasnya diri dari fitnah dan dosa-dosa, serta Tawakal dan kepercayaan kepada Allah.[4]
Peran Akal dalam Tadabur
Peran akal sebagai alat untuk mentadaburi ayat-ayat Ilahi berada pada posisi di mana para mufasir sangat menekankan perhatian pada argumentasi akal dan peran akal dalam memaparkan kUnsep-kUnsep yang bersumber dari Al-Qur'an.[5] Imam Khomeini menganggap tadabur dalam Al-Qur'an sebagai salah satu dalil penggunaan akal dalam memahami ayat-ayat Ilahi. Ia menganggap perlunya penurunan kitab-kitab samawi dan pengutusan para nabi Ilahi disebabkan oleh keberadaan akal pada manusia dan kebutuhannya akan petunjuk serta pencerahan; oleh karena itu, setiap orang dapat mengambil manfaat dari Al-Qur'an dan mentadaburinya sesuai dengan batas kemampuan akal dan kejernihan batinnya.[6]
Patologi Tadabur
Tadabur dalam Al-Qur'an Al-Karim termasuk perkara penting yang senantiasa memperkokoh hubungan manusia dengan Allah; oleh karena itu, hal ini selalu menjadi sasaran berbagai kerusakan dan penghalang yang menyimpangkan manusia dari jalan utama. Di antara penghalang tersebut adalah kekufuran (tidak beriman), tidak adanya penyucian batin, serta ghuluw (berlebih-lebihan) dan taqsir (kelalaian).[7]
Imam Khomeini juga menyatakan bahwa ketidaksucian batin adalah salah satu penghalang utama dalam mentadaburi ayat-ayat Allah. Ia meyakini bahwa setiap perbuatan manusia membentuk rupa malakut (spiritual) yang akan membuat batin jiwa bercahaya atau gelap. Karena itu, tadabur Al-Qur'an tidak akan berpengaruh jika hati tidak bercahaya dan kunci-kunci hatinya belum terbuka.[8] Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kerusakan dan penghalang lain bagi tadabur dalam Al-Qur'an adalah ghuluw, taqsir, dan berhenti pada lahiriah atau batiniah semata. Menurut keyakinannya, merasa cukup dengan lahiriah Al-Qur'an dan membatasi diri pada lafal-lafalnya sehingga terhalang dari batin Al-Qur'an adalah salah satu kerusakan yang menjangkiti keyakinan sebagian orang. Hal ini menyebabkan mereka terhalang dari tadabur dalam Al-Qur'an dan akibatnya tidak mencapai makrifat-makrifatnya yang tinggi, serta tetap tinggal pada tahapan lahiriah saja.[9]
Catatan Kaki
Daftar Pustaka
- Amuli, Haidar. Tafsir al-Muhith al-A'zham. Teheran: Intisyarat-e Wezarat-e Ersyad, 1442 H.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1384 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Anwar al-Hidayah. Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1385 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Sahifeh-ye Imam. Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1389 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh-e Chehel Hadits . Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1388 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahdzib al-Ushul. Teheran: Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini, 1381 HS.
- Javadi, Abdullah. Tafsir-e Tasnim. Qom: Nashr-e Isra, 1387 HS.
- Kuhi, Alireza. Marateb-e Uns ba Quran dar Andisheh-ye Imam Khomeini. Teheran: Nashr-e Uruj, 1394 HS.
- Lankarani, Muhammad. Madkhal al-Tafsir. Teheran: Nashr-e Haidari, 1396 H.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi. Al-Tamhid fi Ulum al-Quran. Qom: Nashr al-Islami, 1415 H.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi. Tafsir wa Mufassiran. Qom: Muassasah Farhangi-ye Al-Tamhid, 1379 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Muassasah al-Wafa, 1404 H.
- Muttaqi Hindi, Alauddin. Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af'al. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1409 H.
- Thabarsi, Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Tafsir al-Mizan. Qom: Intisyarat-e Eslami, 1417 H.
- ↑ Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'zham, jld. 1, hlm. 125-134; Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 5, hlm. 19.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 92, hlm. 182; Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 2, hlm. 554; Kanz al-Ummal, jld. 2, hlm. 205; Jawadi, Tafsir-e Tasnim, jld. 1, hlm. 57; Ma'rifat, Al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 349.
- ↑ Imam Khomeini, Adab al-Shalat, hlm. 203-205; Syarh-e Chehel Hadits, hlm. 500; Sahifeh-ye Imam, jld. 16, hlm. 34.
- ↑ Imam Khomeini, Adab al-Shalat, hlm. 203-208; Sahifeh-ye Imam, jld. 16, hlm. 34; Syarh-e Chehel Hadits, hlm. 500.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, jld. 1, hlm. 81; Lankarani, Madkhal al-Tafsir, hlm. 159-160; Ma'rifat, Tafsir va Mufassiran, jld. 2, hlm. 226; Javadi, Tafsir-e Tasnim, jld. 1, hlm. 57.
- ↑ Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, jld. 20, hlm. 408-409, jld. 4, hlm. 186; Syarh-e Chehel Hadits, hlm. 559-560; Adab al-Shalat, hlm. 249-250; Tahdzib al-Ushul, jld. 2, hlm. 165; Anwar al-Hidayah, jld. 1, hlm. 243-247.
- ↑ Kuhi, Marateb-e Uns ba Quran, hlm. 177-182.
- ↑ Imam Khomeini, Sahifeh-ye Imam, jld. 18, hlm. 446-447; Adab al-Shalat, hlm. 246; Kuhi, Marateb-e Uns ba Quran, hlm. 182-183.
- ↑ Imam Khomeini, Adab al-Shalat, hlm. 355-356; Kuhi, Marateb-e Uns ba Quran, hlm. 183-184.