Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah(buku)
Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah adalah sebuah buku irfan mengenai hakikat kekhalifahan Muhammadiyah (saw) dan wilayah Alawiyah (as) karya Imam Khomeini; berbahasa Arab.
Imam Khomeini menyelesaikan penulisan Misbah al-Hidayah pada bulan Maret 1309 HS (Syawal 1349 H) dalam usia 28 tahun. Beliau menyebutkan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah untuk menjelaskan permulaan dari hakikat kekhalifahan Muhammadiyah (saw) dan secercah cahaya dari hakikat wilayah Alawiyah (as) bagi para penempuh spiritual (suluk) dan irfan, agar cara manifestasi dari kedua hakikat ini di seluruh tahapan eksistensi dapat tersingkap, serta alirannya dalam tingkatan nuzul (turun) dan shoud (naik) menjadi jelas.
Misbah al-Hidayah memiliki posisi khusus layaknya sebuah teks pelajaran yang ringkas, fasih, disertai kematangan serta kerumitan teks-teks ilmiah yang padat dan anggun.
Buku ini disusun dalam satu pengantar, dua "Misykat", dan satu "Khatimah" (penutup).Misykat pertama terdiri dari 56 "Misbah" (pelita) dan misykat kedua mencakup tiga "Misbah".Misbah pertama terdiri dari 21 "Nur" (cahaya), misbah kedua terdiri dari 13 "Mathla'" (tempat terbit), dan misbah ketiga terdiri dari 12 "Wamidh" (kilatan cahaya).
Imam Khomeini dalam "Khatimah wa Washiyyah" sangat menekankan untuk menjaga rahasia-rahasia irfan yang disebutkan dalam buku ini, menghindari penyingkapannya kepada orang-orang yang tidak layak, serta meminta bantuan dari karya-karya dan kata-kata para teolog Ilahi (mutaallihin) untuk memahami materi-materi irfan.
Buku "Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah" telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Sayid Ahmad Fehri dengan izin dari Imam Khomeini, dan Penerbit Payam-e Azadi menerbitkannya pada tahun 1360 HS.Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini mencetak karya ini pada tahun 1372 HS dengan pengantar dari Sayid Jalaluddin Ashtiani dalam 315 halaman.
Buku ini dicetak dalam jilid 44 "Mausu'ah al-Imam al-Khomeini" pada tahun 1392 HS.
Pengenalan Detail
Imam Khomeini menyelesaikan penulisan Misbah al-Hidayah sebagai buku irfan ketiganya pada 25 Syawal 1349 H / 24 Esfand 1309 HS (15 Maret 1931) dalam usia 28 tahun, setelah menulis buku Syarh Dua al-Sahar dan buku Al-Ta'liqah 'ala al-Fawaid al-Radhawiyyah.[1] Beliau menyebutkan tujuan penulisan buku ini adalah untuk menjelaskan permulaan dari hakikat kekhalifahan Muhammadiyah (saw) dan secercah cahaya dari hakikat wilayah Alawiyah (as) bagi para penempuh suluk dan irfan, agar cara manifestasi dari kedua hakikat ini di seluruh tahapan eksistensi dapat tersingkap, serta alirannya dalam tingkatan nuzul dan shoud menjadi jelas, serta beliau bermaksud untuk menyingkap rahasia dari dua busur eksistensi (qaus eksistensi) dalam rangkaian nuzul dan shoud yang berada dalam lingkaran malakut alam.[2]
Meskipun dalam sebagian besar buku irfan Imam Khomeini, kemampuan beliau dalam menjelaskan kerumitan pembahasan dan pandangan irfan dengan pena yang mengalir dan fasih sangat terlihat jelas; namun Misbah al-Hidayah memiliki posisi khusus layaknya sebuah teks pelajaran yang ringkas, fasih, disertai kematangan serta kerumitan teks-teks ilmiah yang padat dan anggun. Prosa teks ini berbentuk musajja' (berima); dalam kebanyakan kasus, kedua bagian dari kalimat diakhiri dengan kata-kata yang harmonis dan berima, yang merupakan manifestasi jelas dari kemampuan penulis.[3] Dalam buku ini, di mana kefasihan kata, kedalaman, dan ketelitian berkumpul menjadi satu, hakikat kekhalifahan Muhammadiyah (saw) dan wilayah Alawiyah (as) dijelaskan dengan cita rasa irfan sedemikian rupa sehingga selain memperhatikan keteraturan dan susunan konten, juga sepenuhnya selaras dengan kandungan ayat-ayat, riwayat, dan argumen-argumen filosofis; sementara kategorisasi dan susunan seperti ini tidak ditemukan dalam karya irfan Muhyiddin Ibnu Arabi yang menyajikan materi irfan teoretis yang paling rumit dan mendalam. Imam Khomeini dengan pandangan irfan yang hanya muncul dari para arif yang sempurna[4] membahas tentang bagaimana munculnya pluralitas (katsrat) dari kesatuan (wahdat) untuk menunjukkan bagaimana dari gaib mutlak yang merupakan la ta'ayyun murni (tidak teridentifikasi) dan tidak bermanifestasi dalam cermin mana pun, asma dan sifat menjadi tampak.[5]
Secara umum, teks-teks irfan masa lalu tidak memiliki keteraturan dan susunan yang layak, atau mereka mencampuradukkan pembahasan irfan dengan pembahasan teologi, filsafat, dan sejarah sedemikian rupa sehingga mengekstrak pandangan dunia yang koheren tentang maqam kekhalifahan dan wilayah dari teks-teks tersebut merupakan pekerjaan yang rumit dan sulit. Sementara itu, Imam Khomeini dalam Misbah al-Hidayah telah mengemukakan maqam kekhalifahan dan wilayah dengan pandangan dunia irfan teoretis beserta istilah-istilah kuncinya secara jelas dan koheren.[6]
Struktur dan Kandungan Buku
Buku ini disusun dalam satu pengantar singkat, dua "Misykat", dan satu "Khatimah". Misykat pertama terdiri dari 56 "Misbah" yang membahas tentang penyingkapan beberapa rahasia kekhalifahan Muhammadiyah (saw) dan wilayah Alawiyah (as) pada tingkatan ilmu dzati dan sistem sebelum kemunculan (zuhur). Pada misykat kedua, beberapa rahasia kekhalifahan, wilayah, dan kenabian dalam alam nyata (nasy'ah 'aini) serta dua alam, yaitu alam amar dan khalq dijelaskan, yang mencakup tiga misbah. Misbah pertama dalam 21 pasal dengan judul "Nur" membahas tentang beberapa rahasia alam amar, yaitu alam mujarradat dan akal[7] Misbah kedua dalam 13 "Mathla'" dikhususkan untuk menjelaskan rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah dalam alam gaib dan cahaya akal Ilahi. Karena bagian ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat yang terbit dari ufuk-ufuk yang bercahaya, maka pasal-pasal di bagian ini dinamakan "Mathla'".[8] Misbah ketiga dalam 12 "Wamidh" yang berarti kilatan cahaya, membahas tentang rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah dalam alam lahiriah makhluk (nasy'ah dhahiri khalqi) yang seperti kilat yang bersinar, menerangi rahasia ketuhanan (rububiyah.[9]
Imam Khomeini dalam misykat pertama bermaksud menjelaskan bahwa identitas dzat Hak Ta'ala adalah gaib murni yang tidak memiliki kemunculan dan pemahaman serta syuhud atas-Nya tidaklah mungkin; hakikat mutlak gaib yang tidak memiliki penentuan (ta'ayyun), nama (asma), tanda, and sifat sama sekali, serta tidak bermanifestasi dalam cermin mana pun.[10] Hakikat ini berbeda secara esensial (mutabayin bidz-dzat) dengan makhluk-makhluk ciptaan dan tidak memiliki hubungan dengan asma dan sifat; oleh karena itu, tanpa perantara, makhluk tidak mampu menerima limpahan (faidh) dari hadirat Ghaib al-Ghuyub. Maka tidak dapat tidak, agar asma dapat bermanifestasi, harus ada seorang khalifah yang bertanggung jawab atas kemunculan asma dan refleksi cahaya mereka.[11] Khalifah Ilahi ini memiliki dua sisi; satu sisi dalam identitas gaib dan sisi lain dalam alam asma dan sifat. Sisi pertama tidak memiliki kemunculan dan manifestasi sama sekali, dan setiap kemunculan serta manifestasi yang ada adalah terkait dengan asma dan sifat. Makhluk pertama yang menerima limpahan faidh dari faidh aqdas dan khalifah agung adalah Ism Azam, dan hal pertama yang keluar dari manifestasi Ism Azam adalah maqam rahmaniyat dan rahimiyat dzati. Maqam wahidiyat adalah melalui perantara khalifah Ilahi yang bermanifestasi dalam bentuk pluralitas asma dan sifat, serta menjadi sumber bagi seluruh pluralitas lainnya.[12]
Kekhalifahan ini adalah maqam Ism Azam "Allah", dan karena Ism Azam "Allah" mengumpulkan asma jamali (keindahan) dan jalali (keagungan), maka tajali-Nya bagi satu per satu dari entitas yang mungkin (a'yan mumkinah) tidaklah mungkin; maka harus ada cermin yang merefleksikan cahaya Ism Azam tersebut, dan cermin itu adalah insan kamil.[13] Dan sebagaimana nama "Allah" menjadi hakim yang adil di antara asma lainnya dan menjaga keseimbangan di antara asma, kedudukan Nabi Akram Hazrat Khatam (saw) yang merupakan manifestasi dari nama "Allah" juga bertugas menjaga batasan Ilahi dan menciptakan keseimbangan serta keadilan dalam perintah-perintah Ilahi.[14] Kehadiran Ism Azam "Allah" adalah kehadiran qadha dan qadar ketuhanan, dan setiap pemilik kedudukan pada tingkatan ini akan mencapai maqamnya. Tingkatan ini adalah maqam ilmu tersembunyi (maknun) dan tersimpan (makhzun) Ilahi yang tidak diketahui oleh siapa pun, dan bada' bersumber dari maqam ini; Meskipun kemunculan dan manifestasinya berada di alam nyata ('ain).[15]
Imam Khomeini di bawah sebuah hadits dari Amirul Mukminin (as) menjelaskan tentang sirr al-qadar dan menganggapnya sebagai hakikat yang tersembunyi dalam hijab dan ditutup dengan stempel Ilahi, di mana satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah pemberian Ilahi; karena ia adalah lautan yang sangat agung dan dalam yang seluruh hakikatnya dikhususkan bagi Allah.[16] Beliau dalam misykat pertama, mendedikasikan beberapa pasal untuk menjelaskan perkataan Qadli Said Qumi tentang tingkatan asma Ilahi[17] dan sifat-sifat penyangkalan (salbi)[18] serta mengkritik perkataannya. 'Amaa, Bada', hakikat qadha dan qadar Ilahi, makna inba' dalam perkataan Abdurrazzaq Kasyani dan kritik terhadap perkataannya adalah di antara pembahasan lain yang mengisi pasal-pasal terakhir dari misykat ini.[19]
Misykat kedua di bawah tiga "Misbah" dikhususkan untuk menjelaskan beberapa rahasia kekhalifahan, wilayah, dan kenabian dalam alam nyata serta dalam alam amar dan khalq. Imam Khomeini dalam misbah pertama menjelaskan bahwa dzat gaib Al-Haq, tanpa adanya penentuan asma (ta'ayyun asma'i), tidak menjadi sumber bagi kemunculan dan manifestasi apa pun; oleh karena itu, cinta dzati Al-Haq bergantung pada keinginan untuk menampakkan diri-Nya dalam cermin asma dan sifat, dan tajali pertama dari dzat Al-Haq adalah masyiah mutlaqah yang memiliki kemunculan yang tidak ditentukan, dan ia diistilahkan sebagai "faidh muqaddas". Beliau menetapkan dua pertimbangan untuk masyiah mutlaqah; satu adalah pertimbangan la ta'ayyun (tidak ditentukan) dan kesatuan (wahdat), dan yang lainnya adalah maqam pluralitas (katsrat). Beliau menganggap penentuan dalam bentuk amar dan khalq dari masyiah mutlaqah mengumpulkan seluruh tingkatan asma yang tidak ada satu zarah pun keluar dari wilayah ilmunya, dan dzat kudus Al-Haq dengan segala kesucian-Nya tampak pada segala sesuatu.[20] Beliau dalam masalah kemunculan Al-Haq dalam tingkatan eksistensi dari perspektif arif yang melihat penentuan eksistensi lebur dalam penentuan ahadi,[21] berpandangan bahwa Hazrat Al-Haq itu sendiri adalah teks kemunculan (matn zuhur) dan tidak ada hijab atas hadirat kesucian-Nya, dan hijab-hijab itu semuanya muncul dari teks batasan dan penentuan.[22] Beliau di bawah misbah ini juga mengangkat pembahasan seperti sifat taufiqi dari asma Ilahi,[23] tanzih dan tasybih[24] dan menjelaskan beberapa riwayat yang berkaitan dengan pembahasan penciptaan.[25]
Imam Khomeini dalam misbah kedua menyingkap kemunculan kekhalifahan, kenabian, dan wilayah dalam alam-alam gaib dan cahaya akal, dan menganggap penentuan pertama bagi masyiah mutlaqah adalah ruh-ruh suci para Makshum (as), serta menjelaskan sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as) tentang nur Muhammadiyah (saw) dan menjelaskan poin-poin halus dari hadits tersebut.[26] Beliau juga menyebutkan perbedaan pandangan filsuf dan arif tentang ciptaan pertama (shadir awwal) dan menyampaikan pandangan inovatifnya yang merupakan titik temu di antara perkataan-perkataan tersebut.[27] Beliau menganggap shadir awwal sebagai hakikat akal (haqiqah aqliyah) yang merupakan hakikat dari seluruh alam dan alam-alam semuanya adalah bayangan (dhill) darinya. Hakikat ini berkuasa atas seluruh makhluk dan diperintahkan oleh Hak Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada makhluk-makhluk.[28]
Misbah ketiga adalah tentang rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah dalam alam lahiriah makhluk, dan di dalamnya dengan menjelaskan makna dan batasan empat perjalanan (asfar arba'ah), diisyaratkan tentang rahasia pengutusan para nabi (as) and perbedaan tingkatan mereka dalam empat perjalanan tersebut.[29] Imam Khomeini dalam bagian ini menulis bahwa sebagian asma Ilahi meliputi sebagian asma lainnya; namun nama "Allah" memiliki liputan yang sempurna atas semua asma dan memiliki seluruh kedudukan Ilahi[.[30] Maka di alam lahir pun, khalifah Ilahi harus memiliki kedudukan seperti itu agar sama seperti pemerintahan Ism Azam "Allah", ia berkuasa atas seluruh tingkatan asma dan hakikat entitas.[31] Oleh karena itu, khalifah tersebut melihat bagaimana hubungan antara segala sesuatu dengan asma Ilahi dalam busur naik dan turun, yang dari hakikat ini diistilahkan sebagai "Lailatul Qadar Muhammadiyah (saw)".[32] Beliau menganggap keluasan kekhalifahan dan kenabian berada pada batas asma yang menguasai pemilik kekhalifahan dan kenabian, serta mengisyaratkan perbedaan tingkatan para nabi (as) dengan Khatamun Nabiyyin (saw) bahwa Nabi Khatam (saw) adalah manifestasi dari Ism Azam Allah dan nabi-nabi lainnya (as) adalah manifestasi dari asma lainnya.[33] Beliau di akhir misbah ini menukil dan mengkritik perkataan arif besar Aqa Muhammad Ridha Qumsyehi tentang asfar arba'ah, kemudian menjelaskan pandangannya sendiri dan menyatakan bahwa empat perjalanan ini akan ada bagi setiap pemilik syariat, dengan perbedaan tingkatan dan maqam mereka; bahkan perjalanan-perjalanan ini juga terwujud bagi para wali yang sempurna; sebagaimana ia juga telah terwujud bagi Amirul Mukminin Ali (as) dan Imam Makshum lainnya (as).[34]
Imam Khomeini di akhir buku di bawah judul "Khatimah wa Washiyyah" sangat menekankan untuk menjaga rahasia-rahasia irfan yang disebutkan dalam buku ini, menghindari penyingkapannya kepada orang-orang yang tidak layak, serta meminta bantuan dari karya-karya dan kata-kata para teolog Ilahi untuk memahami materi-materi irfan.[35]
Beberapa poin menonjol dari buku ini meliputi:
- Penggunaan riwayat para Imam Makshum (as) serta penjelasan dan pemaparannya berdasarkan aliran irfan dan penyesuaian pandangan para arif dengan riwayat-riwayat tersebut;[36]
- Penyesuaian maqam wilayah insan kamil dengan Faidh Aqdas;[37]
- Penjelasan masalah Lailatul Qadar dan hakikatnya;[38]
- Penjelasan konsep "'Amaa", hakikat Qadha dan Qadar; Bada' dan sumbernya;[39]
- Hubungan hakikat kekhalifahan dan wilayah dengan manifestasi mereka;[40]
- Penjelasan rahasia keengganan para nabi (as) dan wali (as) dalam menunjukkan mukjizat dan karamah;[41]
- Asfar Arba'ah;[42]
- Penukilan dan kritik terhadap pandangan orang-orang seperti Ibnu Arabi, Muhammad Ridha Qumsyehi, dan Muhammad Ali Shah-Abadi beserta penjelasan teori-teori khususnya sendiri.[43]
Peneliti Prancis, "Yahya Bono" menganggap akses ke buku ini sebagai penemuan yang sangat besar baginya yang telah membimbingnya ke dunia irfan Islam autentik yang tak terbatas. Ia menganggap buku ini sebagai salah satu sumber yang dapat memperkenalkan dunia Barat dengan sisi irfan Imam Khomeini dan menyegarkannya dengan irfan autentik yang bersumber dari ajaran Imam-imam Ma'shum (as).[44]
Nama buku ini sebagaimana disebutkan dalam pengantar adalah "Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah";[45] Namun Imam Khomeini dalam buku-buku beliau lainnya terkadang menyebutnya secara ringkas sebagai "Misbah al-Hidayah"[46] dan terkadang "Misykat al-Hidayah ila Haqiqah al-Khilafah wa al-Wilayah"[47] dan terkadang "Misbah al-Hidayah ila Haqiqah al-Risalah wa al-Wilayah".[48] Aqa Buzurg Tehrani mencatat namanya sebagai "Misbah al-Hidayah fi Haqiqah al-Khilafah wa al-Wilayah".[49]
Informasi Publikasi
Buku "Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah" pertama kali disalin oleh Muhammad Ali Gerami salah satu murid Imam Khomeini dari salinan Muhammad Muhammadi Gilani yang merupakan murid Imam Khomeini lainnya,[50] kemudian Sayid Ahmad Fehri Zanjani dengan izin dari Imam Khomeini menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia dan Penerbit Payam-e Azadi menerbitkannya pada tahun 1360 HS dalam 222 halaman (bersama dengan teks asli). Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini mencetak karya ini pada tahun 1372 HS dengan pengantar penelitian dari Sayid Jalaluddin Ashtiani dalam 315 halaman, bersama dengan daftar ayat, hadits, puisi, tokoh, buku, ungkapan, istilah, dan sumber catatan kaki. Irfan dar Manzhar-e Wahy wa Burhan (Irfan dalam Pandangan Wahyu dan Burhan) adalah syarah bahasa Persia untuk Misbah al-Hidayah yang ditulis oleh Hasan Mamduhi yang diterbitkan oleh Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini pada tahun 1389 HS. Juga Forough-e Ma'rifat dar Asrar-e Khilafat wa Wilayat (Cahaya Makrifat dalam Rahasia Kekhalifahan dan Wilayah) karya Sayid Yadullah Yazdanpanah merupakan syarah dua jilid atas Misbah al-Hidayah yang diterbitkan pada tahun 1395 HS oleh lembaga yang sama. Misbah al-Hidayah beserta penjelasan istilah-istilah buku telah diterjemahkan oleh Hosein Mostafavi pada tahun 1389 HS dan Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini telah menerbitkannya. Demikian pula Muhammad Hasanain Sabiqi Najafi menerjemahkannya ke dalam bahasa Urdu; Pusat Tabligh Islam Syiah dan Jami'ah al-Tsaqalain Pakistan mencetaknya bersama dengan pengantar tentang riwayat hidup Imam Khomeini pada tahun 1404 H. Salam Judi menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1389 HS dengan judul "The lamp of guidance into vicegerency and sanctity" dalam 135 halaman. Buku Misbah al-Hidayah dicetak dalam jilid 44 Mausu'ah al-Imam al-Khomeini bersama dengan penelitian terbaru pada tahun 1392 HS.
Catatan Kaki
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 90; Ansari, Hadits-e Bidari, hlm. 217.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 12.
- ↑ Ghafourian, Mabani wa Wijeghi-ha-ye Irfan-e Nazari-ye Imam Khomeini (Dasar-dasar dan Karakteristik Irfan Teoretis Imam Khomeini), hlm. 35–36.
- ↑ Ashtiani, Pengantar Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah Karya Imam Khomeini, hlm. 9.
- ↑ Ashtiani, Pengantar Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah Karya Imam Khomeini, hlm. 14; Abedi, Nim-Negahi be Ostadan wa Atsar-e Irfani-ye Imam Khomeini (Sekilas tentang Guru-guru dan Karya-karya Irfan Imam Khomeini), hlm. 199.
- ↑ Ghafourian, Mabani wa Wijeghi-ha-ye Irfan-e Nazari-ye Imam Khomeini (Dasar-dasar dan Karakteristik Irfan Teoretis Imam Khomeini), hlm. 39.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 43.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 59.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 13–14.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 13–17.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 18–19.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 35.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 41.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 31.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 32.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 21.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 23.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 29–42.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 43–46.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 47.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 51.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 44.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 52.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 55.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 61.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 64–66.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 67.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 82.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 83.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 83.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 87–89.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 90.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 32, 39, 67, dan 71.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 17–18.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 27.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 29–31.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 37–38.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 53.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 88–90.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 87–89.
- ↑ Bono, Enqilab-e Islami Partovi az Afkar-e Irfani wa Falsafi-ye Imam Khomeini (Revolusi Islam Kilasan dari Pemikiran Irfan dan Filosofis Imam Khomeini), hlm. 69 dan 73.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 12.
- ↑ Imam Khomeini, Adab al-Shalat, hlm. 136; Imam Khomeini, Sirr al-Shalat, hlm. 111; Imam Khomeini, Hadits-e Jonud, hlm. 28.
- ↑ Imam Khomeini, Ta'liqat Fushush, hlm. 233.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah ila Haqiqah al-Risalah wa al-Wilayah, hlm. 276.
- ↑ Tehrani, Al-Dzari'ah, 21/123.
- ↑ Gerami, Misbah al-Hidayah.
Daftar Pustaka
- Abedi, Ahmad. Nim-Negahi be Ostadan wa Atsar-e Irfani-ye Imam Khomeini (Sekilas tentang Guru-guru dan Karya-karya Irfan Imam Khomeini). Jurnal Ayeneh-ye Pazhoohesh, no. 58, 1378 HS.
- Ansari, Hamid. Hadits-e Bidari (Hadits Kebangkitan). Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan ke-20, 1380 HS.
- Aqa Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah. Beirut, Dar al-Adhwa', cetakan ketiga, 1403 H.
- Ashtiani, Sayid Jalaluddin. Moghadameh-ye Ketab-e Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah Ta'lif-e Imam Khomeini (Pengantar Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah Karya Imam Khomeini). Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan keenam, 1386 HS.
- Bono, Yahya. Enqilab-e Islami Partovi az Afkar-e Irfani wa Falsafi-ye Imam Khomeini (Revolusi Islam Kilasan dari Pemikiran Irfan dan Filosofis Imam Khomeini). Jurnal Huzoor, no. 12, 1374 HS.
- Ghafourian, Muhammad Ridha. Mabani wa Wijeghi-ha-ye Irfan-e Nazari-ye Imam Khomeini (Dasar-dasar dan Karakteristik Irfan Teoretis Imam Khomeini). Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan pertama, 1388 HS.
- Gerami, Muhammad Ali. Misbah al-Hidayah. Perpustakaan Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, nomor registrasi 11096.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan keenam belas, 1388 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah. Teheran, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan keenam, 1386 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Sirr al-Shalat (Mi'raj al-Salikin wa Shalat al-'Arifin). Teheran, Lembaga Penyusunan..., cetakan ketiga belas, 1388 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh-e Hadits-e Jonud-e Aql wa Jahl (Syarah Hadits Prajurit Akal dan Kebodohan). Teheran, Lembaga Penyusunan..., cetakan kedua belas, 1387 HS.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Ta'liqat 'ala Syarh Fushush al-Hikam wa Misbah al-Uns. Qom, Pasdar-e Islam, cetakan kedua, 1410 H.