Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah(buku)
Templat:Infobox buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah (bahasa Arab: Templat:Arabic) adalah sebuah buku irfan mengenai hakikat kekhalifahan Muhammadi saw dan wilayah Alawi as karya Imam Khomeini dalam bahasa Arab.
Imam Khomeini menyelesaikan penulisan Misbah al-Hidayah pada 25 Syawal 1349 H (Esfand 1309 HS), di usia 28 tahun. Menurutnya, buku ini ditulis untuk menjelaskan hakikat awal kekhalifahan Muhammadi saw dan kilauan wilayah Alawi as kepada para penempuh jalan spiritual (suluk) dan irfan. Tujuannya adalah agar manifestasi kedua hakikat ini dalam semua tahapan wujud, serta penyingkapannya dalam gerak turun (nuzul) dan naik (shu'ud), dapat dipahami dengan jelas
Misbah al-Hidayah memiliki posisi yang unik. Ia sederhana dan fasih layaknya sebuah teks pengantar, namun tetap mengandung kedalaman dan kerumitan khas karya ilmiah yang padat dan kuat..
Buku ini disusun dalam satu pendahuluan, dua "Misykat" (Niche), dan satu "Khatimah" (Penutup). Misykat pertama terdiri dari 56 "Misbah" (Lampu), dan Misykat kedua mencakup tiga "Misbah". Misbah pertama terdiri dari 21 "Nur" (Cahaya), Misbah kedua terdiri dari 13 "Mathla'" (Tempat Terbit), dan Misbah ketiga terdiri dari 12 "Wamidz" (Kilatan).
Dalam "Khatimah dan Wasiat", Imam Khomeini menekankan secara tegas untuk menjaga rahasia-rahasia irfan yang disebutkan dalam buku ini, menghindari penyingkapannya kepada orang-orang yang tidak pantas (bukan ahlinya), serta memohon bantuan dari karya-karya dan ucapan para muta'alihin (teosof) untuk memahami materi-materi irfan tersebut.
Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Sayid Ahmad Fahri dengan izin Imam Khomeini dan diterbitkan oleh Penerbit Payam-e Azadi pada tahun 1360 HS/1401 H. Muassasah Tanzim va Nashr-e Asar-e Imam Khomeini (Lembaga Pengaturan dan Penerbitan Karya Imam Khomeini) mencetak karya ini pada tahun 1372 HS/1413 H dengan pendahuluan dari Sayid Jalaluddin Asytiani dalam 315 halaman.
Buku ini telah dicetak dalam jilid ke-44 "Mawsu'ah al-Imam al-Khomeini" (Ensiklopedia Imam Khomeini) pada tahun 1392 HS/1434 H.
Pengenalan Rinci
Imam Khomeini menyelesaikan penulisan Misbah al-Hidayah, yang merupakan buku irfan ketiganya, pada 25 Syawal 1349 H / 24 Esfand 1309 HS pada usia 28 tahun, setelah menulis buku Syarh Du'a al-Sahar dan Al-Ta'liqah ala al-Fawaid al-Radhwiyah.[1] Menurut penulisnya, buku ini ditulis untuk menjelaskan hakikat awal kekhalifahan Muhammad saw dan kilauan wilayah Alawi as kepada para penempuh Sair suluk dan ahli irfan. Tujuannya adalah untuk menguraikan manifestasi kedua hakikat ini di semua tahapan wujud, proses penyingkapannya dalam gerak turun (nuzul) dan naik (shu'ud), serta membuka tabir rahasia dua busur eksistensi (qaus) dalam siklus penurunan dan penaikan yang berlangsung di dalam lingkaran malakuti alam semesta..[2]
Meskipun dalam umumnya buku-buku irfan Imam Khomeini, kemampuan beliau dalam menjelaskan kerumitan pembahasan dan pandangan irfan dengan pena yang mengalir dan fasih sangat terlihat jelas, namun Misbah al-Hidayah memiliki kedudukan khusus selayaknya teks pelajaran yang ringkas dan fasih, disertai dengan kematangan dan kerumitan teks-teks ilmiah yang padat dan megah. Prosa yang digunakan bersajak; dalam banyak kasus, setiap dua potongan frasa diakhiri dengan kata-kata yang harmonis dan berima, yang merupakan salah satu manifestasi jelas dari kemampuan penulis.[3] Dalam buku ini, di mana keindahan frasa berpadu dengan kedalaman dan ketelitian, hakikat kekhalifahan Muhammadi saw dan wilayah Alawi as dijelaskan dengan cita rasa irfan sedemikian rupa sehingga selain mematuhi keteraturan dan urutan konten, juga sepenuhnya selaras dengan kandungan ayat-ayat, riwayat, dan argumen filosofis; sementara pengelompokan dan susunan seperti ini tidak terlihat dalam karya-karya irfan Muhyiddin Ibnu Arabi yang menyajikan materi irfan teoretis yang paling rumit dan mendetail. Imam Khomeini, dengan pandangan irfan yang hanya muncul dari para arif yang sempurna (kamil),[4] menjelaskan bagaimana munculnya kedaulatan (katsrah) dari kesatuan untuk menunjukkan bagaimana Asma dan Sifat muncul dari Yang Gaib Mutlak yang merupakan ketidaktertentuan murni dan tidak bermanifestasi dalam cermin apa pun.[5]
Secara umum, teks-teks irfan terdahulu tidak tertata dengan baik atau mencampuradukkan irfan dengan ilmu kalam, filsafat, dan sejarah. Akibatnya, menyusun pandangan dunia yang utuh tentang maqam kekhalifahan dan wilayah dari teks-teks tersebut menjadi pekerjaan yang sulit. Berbeda dengan itu, dalam Misbah al-Hidayah, Imam Khomeini menyajikan maqam kekhalifahan dan wilayah secara rapi dan koheren melalui pandangan dunia irfan teoretis beserta istilah-istilah kuncinya..[6]
Struktur dan Konten
Buku ini disusun dalam satu pendahuluan singkat, dua "Misykat", dan satu "Khatimah". Misykat pertama dalam 56 "Misbah" membahas tentang penyingkapan sebagian rahasia kekhalifahan Muhammadi saw dan wilayah Alawi as pada tingkatan ilmu dzati dan sistem sebelum kemunculan (zhuhur). Pada Misykat kedua, sebagian rahasia Kekhalifahan dan Wilayah serta Kenabian di alam objektif (Nasy'ah 'ainiyah) dan dua alam (Amr dan Khalq) dijelaskan, yang terdiri dari tiga Misbah. Misbah pertama dalam 21 pasal dengan judul "Nur" membahas sebagian rahasia alam Amr, yaitu Alam Mujarradat dan Akal.[7] Misbah kedua dalam 13 "Mathla'" dikhususkan untuk menjelaskan rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah di alam gaib dan cahaya akal Ilahi, dan karena bertujuan menjelaskan hakikat yang terbit dari ufuk nurani, pasal-pasal di bagian ini dinamakan "Mathla'" (Tempat Terbit).[8] Misbah ketiga dalam 12 "Wamidz" (yang berarti kilatan cahaya), membahas rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah di alam lahiriah (nasy'ah zhahiri khalqi) yang seperti kilat yang bersinar, menerangi rahasia-rahasia Rububiyah.[9]
Imam Khomeini dalam Misykat pertama bermaksud menjelaskan bahwa identitas dzat Allah swt adalah gaib murni yang tidak memiliki kemunculan (zhuhur), dan tidak pula dapat dipahami atau disaksikan; hakikat mutlak gaib yang tidak memiliki penentuan (ta'ayyun), nama, tanda, maupun sifat apa pun, dan tidak bermanifestasi dalam cermin apa pun.[10]Hakikat ini pada dasarnya berbeda (mutabayin) dari makhluk ciptaan dan tidak terhubung langsung dengan Asma dan Sifat. Tanpa perantara, mereka tidak mampu menerima limpahan (faiz) dari Hadirat Ghaib al-Ghuyub. Karena itu, agar Asma dapat terwujud, harus ada seorang khalifah yang menampung kemunculan Asma dan memantulkan cahaya mereka.[11] Khalifah Ilahi ini memiliki dua wajah; satu wajah pada identitas gaib dan satu wajah pada alam Asma dan Sifat. Wajah pertama tidak memiliki kemunculan dan penampakan apa pun, dan segala kemunculan serta manifestasi berkaitan dengan Asma dan Sifat. Wujud pertama yang menerima faiz dari Faiz Aqdas dan Khalifah Agung adalah Ism A'zam, dan hal pertama yang keluar dari manifestasi Ism A'zam adalah Maqam Rahmaniyah dan Rahimiyah Dzati. Maqam Wahidiyah muncul dalam bentuk pluralitas Asma dan Sifat melalui perantara Khalifah Ilahi dan menjadi sumber bagi segala pluralitas lainnya.[12]
Kekhalifahan ini adalah maqam Ism A'zam "Allah", dan karena Ism A'zam "Allah" mencakup seluruh Asma Jamali (Keindahan) dan Jalali (Keagungan), manifestasinya pada salah satu entitas (a'yan) tidaklah mungkin; maka harus ada cermin yang memantulkan cahaya Ism A'zam tersebut, dan cermin itu adalah Insan Kamil (Manusia Sempurna),[13] dan sebagaimana nama "Allah" adalah hakim yang adil di antara nama-nama lain dan menjaga keseimbangan di antara nama-nama tersebut, kedudukan Nabi Muhammad saw yang merupakan manifestasi nama "Allah" juga menjaga batasan-batasan Ilahi dan menciptakan keseimbangan serta moderasi dalam perintah-perintah Ilahi.[14] Kehadiran Ism A'zam "Allah" adalah kehadiran Qadha dan Qadar Rububi, dan setiap pemilik maqam mencapai kedudukannya pada tingkatan ini. Tingkatan ini adalah maqam ilmu Allah yang tersembunyi dan tersimpan yang tidak diketahui oleh siapa pun, dan Bada' bermula dari maqam ini;[15] meskipun kemunculan dan penampakannya ada di alam nyata.
Imam Khomeini dalam penjelasan sebuah Hadis dari Amirul Mukminin as membahas tentang Sirr al-Qadr (Rahasia Qadar) dan menganggapnya sebagai hakikat yang tersembunyi dalam hijab dan tertutup oleh segel Ilahi, di mana satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah pemberian Ilahi; karena ia adalah lautan yang sangat besar dan dalam yang seluruh hakikatnya khusus milik Allah.[16] Dalam Misykat pertama, beliau mengalokasikan beberapa pasal untuk memaparkan pendapat Qadhi Sa'id Qumi tentang tingkatan Asma Ilahi[17] dan sifat-sifat Salbiyah (negasi),[18] lalu mengkritik pendapat tersebut. Ama', Bada', hakikat Qadha dan Qadar, makna Inba' dalam pendapat Abdurrazzaq Kasyani dan kritik atas ucapannya adalah pembahasan lain yang dimuat dalam pasal-pasal akhir Misykat ini.[19]
Misykat kedua yang terdiri dari tiga "Misbah" dikhususkan untuk menjelaskan sebagian rahasia Kekhalifahan dan Wilayah serta kenabian di alam objektif ('ainiyah) dan di alam Amr dan Khalq. Imam Khomeini dalam Misbah pertama menjelaskan bahwa Dzat Gaib Hakiki, tanpa penentuan Asma, tidak menjadi sumber bagi kemunculan dan penampakan apa pun; oleh karena itu, cinta dzati (hubb dzati) Al-Haqq berkehendak untuk menampakkan diri-Nya di cermin Asma dan Sifat, dan tajalli (manifestasi) pertama Dzat Al-Haqq adalah Masyiat Muthlaqah (Kehendak Mutlak) yang memiliki kemunculan tak terbatas, yang disebut sebagai "Faiz Muqaddas". Beliau menetapkan dua itibar (sudut pandang) bagi Masyiat Muthlaqah; satu itibar ketidakterbatasan (la-ta'ayyun) dan kesatuan (wahdah), dan yang lain maqam katsrah (pluralitas). Beliau menganggap penentuan dalam bentuk Amr dan Khalq dari Masyiat Muthlaqah mencakup seluruh tingkatan Asma, di mana tidak ada satu zarah pun yang keluar dari cakupan ilmunya, dan Dzat Suci Al-Haqq dengan segala kesucian-Nya nampak pada segala sesuatu.[20] Dalam masalah kemunculan Al-Haqq di tingkatan wujud, dari sudut pandang arif yang melihat penentuan wujud lebur (mustahlak) dalam penentuan Ahadiah,[21] beliau berkeyakinan bahwa Hadirat Al-Haqq sendiri adalah teks kemunculan (matn-e zhuhur) dan tidak ada hijab pada s ساحat kesucian-Nya, dan hijab-hijab seluruhnya muncul dari teks batasan dan penentuan.[22] Di bawah Misbah ini, beliau juga mengangkat pembahasan seperti tauqifi-nya Asma Ilahi,[23] Tanzih dan Tasybih,[24] dan menjelaskan beberapa riwayat yang berkaitan dengan pembahasan penciptaan.[25]
Imam Khomeini dalam Misbah kedua menyingkap kemunculan kekhalifahan, kenabian, dan wilayah di alam-alam gaib dan cahaya akal, serta menganggap penentuan pertama bagi Masyiat Muthlaqah adalah ruh-ruh suci Para Maksum as. Beliau menjelaskan riwayat dari Imam Shadiq as mengenai Nur Muhammadi saw dan memaparkan poin-poin halus dari hadis tersebut.[26] Beliau juga menyebutkan perbedaan pendapat antara Filsuf dan Arif mengenai "Ciptaan Pertama" (Shadir Awwal) dan menyampaikan pandangan orisinalnya yang merupakan titik temu antara pendapat-pendapat tersebut.[27] Beliau menganggap Shadir Awwal sebagai Hakikat Aqliyah yang merupakan hakikat seluruh alam, dan seluruh alam adalah bayangan (zhill) darinya. Hakikat ini berkuasa atas seluruh makhluk dan diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk memberi petunjuk kepada makhluk.[28]
Misbah ketiga membahas rahasia kekhalifahan, kenabian, dan wilayah di alam lahiriah (khalqi), dan di dalamnya disebutkan makna dan batasan Asfar Arba'ah (Empat Perjalanan), serta diisyaratkan rahasia pengutusan para nabi as dan perbedaan tingkatan mereka dalam empat perjalanan tersebut.[29] Imam Khomeini pada bagian ini menulis bahwa sebagian Asma Ilahi memiliki liputan (ihathah) atas sebagian Asma lainnya; namun nama "Allah" memiliki liputan sempurna atas seluruh Asma dan memiliki seluruh urusan (syu'un) Ilahi.[30] Maka, di alam lahiriah pun Khalifah Ilahi harus memiliki kedudukan demikian agar dapat memerintah atas seluruh tingkatan Asma dan hakikat a'yan (entitas), sebagaimana pemerintahan Ism A'zam "Allah".[31] Oleh karena itu, Khalifah tersebut melihat bagaimana hubungan segala sesuatu dengan Asma Ilahi dalam busur naik dan turun, yang mana hakikat ini disebut sebagai "Lailatul Qadar Muhammadiyah saw".[32] Beliau menganggap luasnya kekhalifahan dan Kenabian sebatas Asma yang berkuasa atas pemilik kekhalifahan dan kenabian tersebut, dan mengisyaratkan perbedaan tingkatan para nabi as dengan Khatamun Nabiyyin saw, bahwa Nabi Penutup saw adalah manifestasi Ism A'zam Allah, sedangkan para nabi lainnya as adalah manifestasi Asma lainnya.[33] Di akhir Misbah ini, beliau mengutip dan mengkritik ucapan arif besar Agha Muhammad Reza Qumshe'i mengenai Asfar Arba'ah, kemudian menyampaikan pandangannya sendiri dan menyatakan bahwa empat perjalanan ini berlaku bagi setiap pemilik syariat, dengan perbedaan tingkatan dan maqam mereka; bahkan perjalanan-perjalanan ini juga terwujud bagi para wali yang sempurna (auliya kamilin), sebagaimana hal itu juga terwujud bagi Amirul Mukminin Ali as dan Para Imam Maksum as lainnya.[34]
Imam Khomeini di akhir buku di bawah judul "Khatimah dan Wasiat" menekankan secara tegas untuk menjaga rahasia-rahasia irfan yang disebutkan dalam buku ini, menghindari penyingkapannya kepada orang-orang yang tidak pantas, serta memohon bantuan dari karya-karya dan ucapan para muta'alihin untuk memahami materi-materi irfan.[35]
Beberapa poin menonjol dari buku ini adalah:
- Penggunaan riwayat Para Imam Maksum as serta syarah dan penjelasannya berdasarkan pandangan irfan dan penyelarasan pendapat para urafa dengan riwayat tersebut;[36]
- Penyelarasan maqam wilayah Insan Kamil dengan Faiz Aqdas;[37]
- Penjelasan masalah Lailatul Qadar dan hakikatnya;[38]
- Penjelasan konsep "Ama'", hakikat Qadha dan Qadar; Bada' dan sumbernya;[39]
- Hubungan hakikat Kekhalifahan dan Wilayah dengan manifestasi-manifestasinya;[40]
- Penjelasan rahasia penolakan para nabi as dan auliya as untuk menampakkan Mukjizat dan karamah;[41]
- Asfar Arba'ah;[42]
- Kutipan dan kritik atas pandangan tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi, Muhammad Reza Qumshe'i, dan Muhammad Ali Syahabadi disertai dengan penyampaian teori-teori khusus beliau sendiri.[43]
Peneliti Prancis, "Yahya Bono", menganggap akses ke buku ini sebagai penemuan yang sangat besar baginya yang menuntunnya ke dunia tak bertepi dari irfan Islam yang orisinal. Ia menganggap buku ini sebagai salah satu sumber yang dapat memperkenalkan dunia Barat pada wajah irfan Imam Khomeini dan memuaskan dahaga akan irfan orisinal yang bersumber dari ajaran Para Imam Maksum as.[44]
Nama buku sebagaimana tercantum dalam pendahuluan adalah "Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah";[45] namun Imam Khomeini dalam buku-bukunya yang lain terkadang menyebutnya secara ringkas dengan "Misbah al-Hidayah"[46] dan terkadang "Misykat al-Hidayah ila Haqiqah al-Khilafah wa al-Wilayah"[47] serta terkadang "Misbah al-Hidayah ila Haqiqah al-Risalah wa al-Wilayah".[48] Agha Buzurg Teherani mencatat namanya sebagai "Misbah al-Hidayah fi Haqiqah al-Khilafah wa al-Wilayah".[49]
Informasi Penerbitan
Buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah pertama kali disalin oleh Muhammad Ali Grami, salah satu murid Imam Khomeini, dari naskah milik Muhammad Muhammadi Gilani, murid Imam Khomeini lainnya,[50] dan kemudian Sayid Ahmad Fahri Zanjani dengan izin Imam Khomeini menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia dan Penerb,
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 90; Anshari, Hadits-e Bidari, hlm. 217.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 12.
- ↑ Ghafurian, Mabani va Vizhegi-haye Irfan-e Nazhari-ye Imam Khomeini, hlm. 35–36.
- ↑ Asytiani, Pendahuluan buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah karya Imam Khomeini, hlm. 9.
- ↑ Asytiani, Pendahuluan buku Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah karya Imam Khomeini, hlm. 14; Abedi, Nimnegahi be Ustadan va Asar-e Irfani-ye Imam Khomeini, hlm. 199.
- ↑ Ghafurian, Mabani va Vizhegi-haye Irfan-e Nazhari-ye Imam Khomeini, hlm. 39.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 43.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 59.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 13–14.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 13–17.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 18–19.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 35.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 41.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 31.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 32.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 21.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 23.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 29–42.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 43–46.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 47.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 51.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 44.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 52.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 55.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 61.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 64–66.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 67.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 81.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 82.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 83.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 83.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 87–89.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 90.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 32, 39, 67, dan 71.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 17–18.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 27.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 29–31.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 37–38.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 53.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 88–90.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 87–89.
- ↑ Bono, Enghelab-e Eslami Partovi az Afkar-e Irfani va Falsafi-ye Imam Khomeini, hlm. 69 dan 73.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah, hlm. 12.
- ↑ Imam Khomeini, Adab al-Shalat, hlm. 136; Imam Khomeini, Sirr al-Shalat, hlm. 111; Imam Khomeini, Hadits-e Junud, hlm. 28.
- ↑ Imam Khomeini, Ta'liqat Fushush, hlm. 233.
- ↑ Imam Khomeini, Misbah al-Hidayah ila Haqiqah al-Risalah wa al-Wilayah, hlm. 276.
- ↑ Teherani, Al-Dzari'ah, jld. 21, hlm. 123.
- ↑ Grami, Misbah al-Hidayah.